Pemondokan jemaah haji semakin jauh sehingga jemaah tak mudah bisa mencapai Masjidil Haram untuk mengikuti salat lima waktu terus menerus. Jarak pemondokan yang jauh akibat pembongkaran sekitar 1.000 apartemen dan hotel di sekitar Majidil Haram Mekah untuk perluasan masjid tersebut.
“Tahun ini memang tahun sulit bagi jemaah haji, khususnya jemaah tua dan lemah karena harus tinggal di tempat yang jauh dari Masjidil Haram. Untuk menuju masjid melaksanakan salat lima waktu dibutuhkan transportasi dan itu pun tidak mudah. Hal ini menunjukkan bahwa Mekah sudah tak bisa menampung jemaah,” kata Uthman Sago, penyelenggara umrah dan haji asal Indonesia yang dikutip haran Arab News edisi Rabo, 17 Desember hari ini.
Jauhnya pemondokan merupakan dampak dari penggusuran sekitar 1.000 hotel dan apartemen di Shamiya, Shubaika, dan Gazza untuk perluasan Masjidil Haram. Akhirnya, jemaah harus bisa menerima tinggal di wilayah yang jauh dari masjidil haram seperti di Al-Hamra, Rusaifah, Second Ring Road, Jalan Al-Hajj, Jalan Al-Jazair, hingga wilayah industri di luar kota.
Menurut Muhsin Al-Habshi, seorang staf muassasah di Mekah, pergeseran pemondokan jemaah haji menjadi sangat radikal jauhnya yang tidak bisa diatasi dalam waktu pendek. Harga pemondokan pun naik tak bisa dielakkan. “Faktor harga kemudian membuat jemaah mencari tempat yang jauh namun murah,” katanya. Jemaah haji Asia telah memilih wilayah yang jauh karena faktor harga itu. Kini akan diikuti menjamurnya rumah makan dan pertokoan di wilayah pinggiran.
“Perlahan lahan semuanya nanti akan bisa lagi menempati tempat yang dekat Masjidil Haram atau terselesaikan dengan mudahnya transportasi,” kata Abdullah Al-Mashat, pengusaha dan pengembang perumahan di Mekah yang sukses. Sebab, kini pembangunan pengimbang telah dilaksanakan di tengah kota yang dekat dari Masjidil Haram. Dalam hitungan Al-Mashat, tahun 2020, jumlah jemaah haji dan umrah akan mencapai 40 juta jemaah. (Musthafa Helmy)
Rabu, 17 Desember 2008
www.informasihaji.com
Showing posts with label INFO HAJI-UMRAH. Show all posts
Showing posts with label INFO HAJI-UMRAH. Show all posts
Thursday, December 18, 2008
Tuesday, October 14, 2008
Menag Imbau Jemaah Selalu Pakai Seragam Haji
Jakarta (MCH). Pemondokan jemaah haji Indonesia di kota Mekah pada musim haji tahun 1429 H/ 2008 akan lebih jauh dibanding tahun sebelumnya. Karena itu Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni mengimbau jemaah selalu menggunakan seragam haji agar mudah diketahui kalau tersesat di wilayah ini.
“Mengingat jauhnya tempat, tolong jemaah haji gunakan seragam haji agar bisa diketahui kalau kesasar,” ujar Menag Maftuh kepada dalam konferensi pers di Bandara Soekarno Hatta, Sabtu sore, 27 September setiba dari Arab Saudi meninjau persiapan haji 1429 H.
Menag mengungkapkan, bahwa jarak pondokan terjauh dari Masjidil Haram adalah sekitar delapan kilometer. "Jadi tidak betul jika ada yang mengatakan jarak terjauh sampai 15 kilometer," tegas Menag.
Namun demikian pemerintah meminta agar para calon jamaah haji tidak terlalu mengkhawatirkan hal ini, karena disediakan angkutan bus dari pondokan ke Masjidil Haram bagi mereka yang letak pondokannya berjarak 1.400 meter ke atas. Menurutnya, untuk jamaah haji Indonesia telah disiapkan 620 bus untuk mengantar jamaah dari pondokan ke Masjidil Haram dan sebaliknya.
Bahkan pemerintah membentuk tim khusus untuk menangani masalah angkutan ini. "Angkutan itu akan berjalan secara efektif, ada wakil kadaker (Ketua Daerah Kerja) khusus bidang angkutan, itu dibentuk untuk tahun ini. Dan itu ada sektor-sektor khusus untuk menangani angkutan," ucap Menag.
Ia pun menambahkan, ada sebelas titik pos angkutan di luar wilayah Masjidil Haram dan tiga titik dekat Masjidil Haram. "Jadi nanti di tiga pos dekat Masjidil Haram, akan dilengkapi pos untuk petugas, juga pos untuk jamaah yang barangkali lelah atau udzur, bisa istirahat di pos itu. Sambil menunggu bis," ungkapnya.
Berbeda dengan problem pemondokan di Mekah, untuk wilayah lain Jeddah dan Madinah, menurut Maftuh, persiapan sudah dilakukan untuk melayani jemaah yang singgah di kota ini. “Di Jeddah telah disiapkan 5 hotel untuk melayani 130 ribu jemaah yang pulang lewat Jeddah,” ucapnya.
Adapun di Madinah juga telah siap dilayani, dan pemerintah telah menunjuk 7 majmuah (grup) untuk melayani jemaah di kota ini. Para jemaah haji seperti biasanya di kota Nabi ini selain berziarah di makam Rasulullah Saw dan para sahabat, juga melakukan ibadah shalat fardlu secara jamaah yang tidak terputus sebanyak 40 waktu (arbain) di Masjid Nabawi. (H. Kadar Santoso
Senin, 29 September 2008 11:24:00 PM
Informasi haji com
“Mengingat jauhnya tempat, tolong jemaah haji gunakan seragam haji agar bisa diketahui kalau kesasar,” ujar Menag Maftuh kepada dalam konferensi pers di Bandara Soekarno Hatta, Sabtu sore, 27 September setiba dari Arab Saudi meninjau persiapan haji 1429 H.
Menag mengungkapkan, bahwa jarak pondokan terjauh dari Masjidil Haram adalah sekitar delapan kilometer. "Jadi tidak betul jika ada yang mengatakan jarak terjauh sampai 15 kilometer," tegas Menag.
Namun demikian pemerintah meminta agar para calon jamaah haji tidak terlalu mengkhawatirkan hal ini, karena disediakan angkutan bus dari pondokan ke Masjidil Haram bagi mereka yang letak pondokannya berjarak 1.400 meter ke atas. Menurutnya, untuk jamaah haji Indonesia telah disiapkan 620 bus untuk mengantar jamaah dari pondokan ke Masjidil Haram dan sebaliknya.
Bahkan pemerintah membentuk tim khusus untuk menangani masalah angkutan ini. "Angkutan itu akan berjalan secara efektif, ada wakil kadaker (Ketua Daerah Kerja) khusus bidang angkutan, itu dibentuk untuk tahun ini. Dan itu ada sektor-sektor khusus untuk menangani angkutan," ucap Menag.
Ia pun menambahkan, ada sebelas titik pos angkutan di luar wilayah Masjidil Haram dan tiga titik dekat Masjidil Haram. "Jadi nanti di tiga pos dekat Masjidil Haram, akan dilengkapi pos untuk petugas, juga pos untuk jamaah yang barangkali lelah atau udzur, bisa istirahat di pos itu. Sambil menunggu bis," ungkapnya.
Berbeda dengan problem pemondokan di Mekah, untuk wilayah lain Jeddah dan Madinah, menurut Maftuh, persiapan sudah dilakukan untuk melayani jemaah yang singgah di kota ini. “Di Jeddah telah disiapkan 5 hotel untuk melayani 130 ribu jemaah yang pulang lewat Jeddah,” ucapnya.
Adapun di Madinah juga telah siap dilayani, dan pemerintah telah menunjuk 7 majmuah (grup) untuk melayani jemaah di kota ini. Para jemaah haji seperti biasanya di kota Nabi ini selain berziarah di makam Rasulullah Saw dan para sahabat, juga melakukan ibadah shalat fardlu secara jamaah yang tidak terputus sebanyak 40 waktu (arbain) di Masjid Nabawi. (H. Kadar Santoso
Senin, 29 September 2008 11:24:00 PM
Informasi haji com
Monday, August 25, 2008
Tambahan 1.000 Bus Operasional Haji
Jakarta (MCH). Lebih 1.000 bus tambahan baru disediakan untuk pelayanan musim haji tahun ini. The General Cars Syndicate (GCS), konsortsium transportasi yang beranggotakan 16 perusahaan angkutan di Arab Saudi menginvestasikan 800 juta Riyal atau 292 juta USD unmtuk membeli bus baru.
Demikiian disebutkan presiden direktur GCS Muhammad Zakaria Al-Jawaharji, yang dikutip harian Arab News edisi Jumat, 1 Agustus kemarin.
"GCS mengadakan perjanjian kontrak dengan 66 delegasi haji dari pelbagai negara untuk mengangkut kira-kira 1.5 juta jemaah haji dengan 18.700 bus," tambah Zakaria. Konsorsium itu akan membangun website yang bisa diakses dalam berbabgai bahasa.
Penambahan kendaraan bus tersebut disambut baik kalangan pengusaha. Ketua Jawatankuasa Pengangkutan di Dewan Perdagangan dan Industri Jeddah, Ali Nagor, menyabut bahwa upaya itu akan memberikan pelayanan haji yang semakin baik.
Encik Nagor, yang juga Presiden Eksekutif Perusahaan Angkutan Al-Jazirah, perusahaannya telah membeli 200 bus mewah baru dengan anggaran sebesar 160 juta Riyal dan berencana akan membeli 300 buah bus lagi dalam waktu dua tahun ke depan. (Musthafa Helmy)
(www.Informasihaji.com)
Sabtu, 2 Agustus 2008
Demikiian disebutkan presiden direktur GCS Muhammad Zakaria Al-Jawaharji, yang dikutip harian Arab News edisi Jumat, 1 Agustus kemarin.
"GCS mengadakan perjanjian kontrak dengan 66 delegasi haji dari pelbagai negara untuk mengangkut kira-kira 1.5 juta jemaah haji dengan 18.700 bus," tambah Zakaria. Konsorsium itu akan membangun website yang bisa diakses dalam berbabgai bahasa.
Penambahan kendaraan bus tersebut disambut baik kalangan pengusaha. Ketua Jawatankuasa Pengangkutan di Dewan Perdagangan dan Industri Jeddah, Ali Nagor, menyabut bahwa upaya itu akan memberikan pelayanan haji yang semakin baik.
Encik Nagor, yang juga Presiden Eksekutif Perusahaan Angkutan Al-Jazirah, perusahaannya telah membeli 200 bus mewah baru dengan anggaran sebesar 160 juta Riyal dan berencana akan membeli 300 buah bus lagi dalam waktu dua tahun ke depan. (Musthafa Helmy)
(www.Informasihaji.com)
Sabtu, 2 Agustus 2008
Wednesday, July 30, 2008
Jemaah Gel. Dua Harus Siap Ihram Dari Embarkasi
Jakarta (MCH). Untuk jemaah haji gelombang dua (langsung ke Mekah)
diharapkan menyiapkan pemakaian ihram dari tanah air. Sebab, berdasar
ketentuan baru Arab Saudi, jemaah haji tidak akan singgah lama di bandara Raja Abdul Aziz Jeddah lebih dari 35 menit. "Karena sempitnya waktu tak mungkin jemaah haji bisa mandi dan mempergunakan ihram di bandara," kata Drs. H. Asnawi Muhammadiyah, Kasubdit Bimbingan Jemaah Haji Departemen Agama RI pada acara Informasi Haji dan Umrah
(IHRAM) di TVRI, Sabtu, 26 Juli pagi hari ini.
Ketentuan baru Kerajaan Arab Saudi itu sudah diumumkan tahun lalu. "Tapi, baru diberlakukan tahun ini," kata Asnawi. Bagi jemaah haji gelombang pertama yang langsung menuju Madinah tak ada masalah kaerna tak terkait dengan miqat. Sebelumnya, jemaah haji bisa tinggal lebih dari 2 jam di bandara sehingga memnungkinkan untuk mandi dan salat sunah ihram.
"Jadi, jemaah haji gelombang dua sudah harus mandi ihram di embarkasi dan kemudian mengenakan baju ihram di tempat yang sama. Sedangkan niat ihram baru nanti pada saat pesawat mengumumkan bahwa posisi sudah setara dengn Yulamlam atau Qarnul Manazil," kata Asnawi.
"Lantas, bagaimana haji orang yang berhaji pada tahun lalu yang berihram
dari Jeddah?" tanya pemirsa bernama H. Utomo asal Palu, Sulawesi Tengah. "Yah sah aja. Ini bukan masalah hukum tapi masalah teknis," kata Asnawi dalam acara yang dipandu Hj. Isna Siskawati itu. Sebab, secara hukum, memulai miqat dari Jeddah tak ada masalah seperti sudah diputuskan MUI dalam dua kali fatwanya mengutip pendapat Imam Ibnu Hajar. (Musthafa Helmy)
(Informasihaji.com)
diharapkan menyiapkan pemakaian ihram dari tanah air. Sebab, berdasar
ketentuan baru Arab Saudi, jemaah haji tidak akan singgah lama di bandara Raja Abdul Aziz Jeddah lebih dari 35 menit. "Karena sempitnya waktu tak mungkin jemaah haji bisa mandi dan mempergunakan ihram di bandara," kata Drs. H. Asnawi Muhammadiyah, Kasubdit Bimbingan Jemaah Haji Departemen Agama RI pada acara Informasi Haji dan Umrah
(IHRAM) di TVRI, Sabtu, 26 Juli pagi hari ini.
Ketentuan baru Kerajaan Arab Saudi itu sudah diumumkan tahun lalu. "Tapi, baru diberlakukan tahun ini," kata Asnawi. Bagi jemaah haji gelombang pertama yang langsung menuju Madinah tak ada masalah kaerna tak terkait dengan miqat. Sebelumnya, jemaah haji bisa tinggal lebih dari 2 jam di bandara sehingga memnungkinkan untuk mandi dan salat sunah ihram.
"Jadi, jemaah haji gelombang dua sudah harus mandi ihram di embarkasi dan kemudian mengenakan baju ihram di tempat yang sama. Sedangkan niat ihram baru nanti pada saat pesawat mengumumkan bahwa posisi sudah setara dengn Yulamlam atau Qarnul Manazil," kata Asnawi.
"Lantas, bagaimana haji orang yang berhaji pada tahun lalu yang berihram
dari Jeddah?" tanya pemirsa bernama H. Utomo asal Palu, Sulawesi Tengah. "Yah sah aja. Ini bukan masalah hukum tapi masalah teknis," kata Asnawi dalam acara yang dipandu Hj. Isna Siskawati itu. Sebab, secara hukum, memulai miqat dari Jeddah tak ada masalah seperti sudah diputuskan MUI dalam dua kali fatwanya mengutip pendapat Imam Ibnu Hajar. (Musthafa Helmy)
(Informasihaji.com)
Pemondokan Haji di Mekkah, Lebih Jauh.
Pemondokan Jemaah di Mekkah Bakal Lebih Jauh, Dampak Perluasan Masjidil Haram
Jakarta, 25/6 (Pinmas)--Direktur Pengelolaan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Sistem Informasi Haji (BPIH dan SIH), Abdul Gafur Djawahir membenarkan bahwa perluasan Masjidil Haram, yang tengah berlangsung dewasa ini, telah memberi dampak luas terhadap perolehan pemondokan bagi jemaah haji Indonsia pada musim haji 1429 H/2008 karena tim perumahan tak mampu mendapatkan pemondokan yang dekat dengan Masjidil Haram.
Sekarang ini para pemilik pemondokan di ring terdekat Masjidil Haram tak mau cepat-cepat menyewakan pondokannyanya. Sesuai hukum pasar, mereka memasang harga tinggi," kata Gafur dalam percakapan dengan ANTARA di Jakarta, Rabu (25/6).
Gafur menceritakan, beberapa pemondokan mewah di kawasan dekat Masjidil Haram telah dibongkar. Demikian pula pusat pasar -- yang dikenal oleh jemaah haji Indonesia sebagai Pasar Seng -- dekat jemaah melakukan sai, sudah dibongkar habis.
Indonesia memasang plafon sewa pemondokan 2000 riyal per jemaah selama musim haji. Plafon pemondokan Indonesia termurah dibanding negara Muslim lainnya. Nigeria saja 2200 riyal, Pakistan 3200, India 3000, Iran 4000. Sedangkan Turki tak menggunakan sistem plafon.
"Pemerintah Iran mengelola pengelenggaraan haji bersamaan penyelenggaraan umroh," kata Gafur.
Terkait dengan perolehan pemondokan haji, Direktur BPIH itu menjelaskan bahwa tim perumahan sulit dapat merealisasikan hasil rapat dengan Komisi VIII DPR RI, yang meminta sekitar 50 persen dari total jemaah Indonesia berada pada jarak 1400 meter dari Masjidil Haram.
Persoalannya, seluruh hotel dekat Masjidil Haram sudah disewa jemaah dari negara lain dengan harga tinggi. Di sekitar kawasan Masjidil Haram, tarif sewa per jemaah sekitar 3500 hingga 4000 rial. Hingga kini tim perumahan sudah mendapatkan sewa pemondokan untuk 80 ribu jemaah. Sekitar 20 persennya berada pada jarak 1400 meter dari Masjidil Haram.
"Selebihnya, jangan harap dapat pemondokan dengan Masjidil Haram," ia menjelaskan.
Menghadapi dampak di luar dugaan seperti itu, menurut Gafur, pihaknya akan mencari beberapa pemondokan yang dianggap layak meski jarak cukup jauh. Dari laporan yang diterima, pihaknya kemungkinan mencari pemondokan di wilayah Mustafa Noor. Dari kawasan ini sudah ada jalan berupa terowongan baru menuju Masjidil Haram. Jika jemaah menggunakan bus, diharapkan dapat mengatasi keadaan saat ini.
Gafur menaruh harapan kepada tim perumahan di Saudi Arabia dapat bekerja maksimal, sehingga perolehan pemondokan bagi jemaah haji Indonesia sekitar 60 persen lagi selesai pada September 2008, sebelum Idul Fitri. (es/ts)
(Departemen Agama RI)
Jakarta, 25/6 (Pinmas)--Direktur Pengelolaan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Sistem Informasi Haji (BPIH dan SIH), Abdul Gafur Djawahir membenarkan bahwa perluasan Masjidil Haram, yang tengah berlangsung dewasa ini, telah memberi dampak luas terhadap perolehan pemondokan bagi jemaah haji Indonsia pada musim haji 1429 H/2008 karena tim perumahan tak mampu mendapatkan pemondokan yang dekat dengan Masjidil Haram.
Sekarang ini para pemilik pemondokan di ring terdekat Masjidil Haram tak mau cepat-cepat menyewakan pondokannyanya. Sesuai hukum pasar, mereka memasang harga tinggi," kata Gafur dalam percakapan dengan ANTARA di Jakarta, Rabu (25/6).
Gafur menceritakan, beberapa pemondokan mewah di kawasan dekat Masjidil Haram telah dibongkar. Demikian pula pusat pasar -- yang dikenal oleh jemaah haji Indonesia sebagai Pasar Seng -- dekat jemaah melakukan sai, sudah dibongkar habis.
Indonesia memasang plafon sewa pemondokan 2000 riyal per jemaah selama musim haji. Plafon pemondokan Indonesia termurah dibanding negara Muslim lainnya. Nigeria saja 2200 riyal, Pakistan 3200, India 3000, Iran 4000. Sedangkan Turki tak menggunakan sistem plafon.
"Pemerintah Iran mengelola pengelenggaraan haji bersamaan penyelenggaraan umroh," kata Gafur.
Terkait dengan perolehan pemondokan haji, Direktur BPIH itu menjelaskan bahwa tim perumahan sulit dapat merealisasikan hasil rapat dengan Komisi VIII DPR RI, yang meminta sekitar 50 persen dari total jemaah Indonesia berada pada jarak 1400 meter dari Masjidil Haram.
Persoalannya, seluruh hotel dekat Masjidil Haram sudah disewa jemaah dari negara lain dengan harga tinggi. Di sekitar kawasan Masjidil Haram, tarif sewa per jemaah sekitar 3500 hingga 4000 rial. Hingga kini tim perumahan sudah mendapatkan sewa pemondokan untuk 80 ribu jemaah. Sekitar 20 persennya berada pada jarak 1400 meter dari Masjidil Haram.
"Selebihnya, jangan harap dapat pemondokan dengan Masjidil Haram," ia menjelaskan.
Menghadapi dampak di luar dugaan seperti itu, menurut Gafur, pihaknya akan mencari beberapa pemondokan yang dianggap layak meski jarak cukup jauh. Dari laporan yang diterima, pihaknya kemungkinan mencari pemondokan di wilayah Mustafa Noor. Dari kawasan ini sudah ada jalan berupa terowongan baru menuju Masjidil Haram. Jika jemaah menggunakan bus, diharapkan dapat mengatasi keadaan saat ini.
Gafur menaruh harapan kepada tim perumahan di Saudi Arabia dapat bekerja maksimal, sehingga perolehan pemondokan bagi jemaah haji Indonesia sekitar 60 persen lagi selesai pada September 2008, sebelum Idul Fitri. (es/ts)
(Departemen Agama RI)
Friday, July 4, 2008
Pemondokan Jemaah Haji Bisa Berjarak 7 Kilometer
Jakarta (MCH). Kesulitan mendapat tempat pemondokan jemaah haji di Mekah
terkait dengan perluasan Masjidil Haram yang berdampak dirobohkannya
sekitar 950 perumahan dan hotel di kawasan Syamiyah, mulai berdampak
pada jemaah haji Indonesia.
Hal ini dinyatakan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen
Agama RI Drs. H, Slamet Riyanto, Msi yang menyatakan di depan peserta
orientasi wartawan di Hotel Sahid Yogyakarta Sabtu, 28 Juni sore hari
ini.
Dikatakan Slamet bahwa pemerintah RI telah berhasil mendapatkan tempat
pemondokan di ring satu untuk 16% jemaah haji Indonesia. "Jumlah itu
adalah 32.000 jemaah haji. Dan itu sudah prestasi besar. Sebab, Malaysia
yang jumlah jemaahnya 25.000 tak terpusat di suatu tempat," katanya.
Diakui Slamet mencari tempat sisa untuk 84% sisanya cukup sulit. "Saya
berharap jemaah biar jauh tidak apa-apa tapi masih bisa diakses jalan
kaki," katanya. Sebab, jika mengandalkan bus kadangkala tidak efektif
sebab terkendala kemacetan dan ditutupkan jalan menuju Masjidil Haram
pada saat puncak musim haji.
Bahkan, untuk mendapatkan tempat yang jaraknya sejauh 7.000 meter atau 7
kilometer juga tak semudah yang diperkirakan. "Untuk mendapatkan tempat
berjarak 7 kolometer itu kita harus berkelahi dengan orang India,"
katanya.
Untuk kita ketahui pagu pemondokan jemaah haji Indonesia di Mekah adalah
2.000 Riyal dan Madinah 500 Riyal. Untuk ring satu tidak ada
pengembalian. Sementara untuk pemondokan jauh akan diberikan
pengembalian sesuai zona pemondokannya. (Musthafa Helmy)
Sabtu, 28 Juni 2008 6:07:32 PM
Informasihaji.com
terkait dengan perluasan Masjidil Haram yang berdampak dirobohkannya
sekitar 950 perumahan dan hotel di kawasan Syamiyah, mulai berdampak
pada jemaah haji Indonesia.
Hal ini dinyatakan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen
Agama RI Drs. H, Slamet Riyanto, Msi yang menyatakan di depan peserta
orientasi wartawan di Hotel Sahid Yogyakarta Sabtu, 28 Juni sore hari
ini.
Dikatakan Slamet bahwa pemerintah RI telah berhasil mendapatkan tempat
pemondokan di ring satu untuk 16% jemaah haji Indonesia. "Jumlah itu
adalah 32.000 jemaah haji. Dan itu sudah prestasi besar. Sebab, Malaysia
yang jumlah jemaahnya 25.000 tak terpusat di suatu tempat," katanya.
Diakui Slamet mencari tempat sisa untuk 84% sisanya cukup sulit. "Saya
berharap jemaah biar jauh tidak apa-apa tapi masih bisa diakses jalan
kaki," katanya. Sebab, jika mengandalkan bus kadangkala tidak efektif
sebab terkendala kemacetan dan ditutupkan jalan menuju Masjidil Haram
pada saat puncak musim haji.
Bahkan, untuk mendapatkan tempat yang jaraknya sejauh 7.000 meter atau 7
kilometer juga tak semudah yang diperkirakan. "Untuk mendapatkan tempat
berjarak 7 kolometer itu kita harus berkelahi dengan orang India,"
katanya.
Untuk kita ketahui pagu pemondokan jemaah haji Indonesia di Mekah adalah
2.000 Riyal dan Madinah 500 Riyal. Untuk ring satu tidak ada
pengembalian. Sementara untuk pemondokan jauh akan diberikan
pengembalian sesuai zona pemondokannya. (Musthafa Helmy)
Sabtu, 28 Juni 2008 6:07:32 PM
Informasihaji.com
Friday, March 14, 2008
Jamarat Mina, 240 Ribu Jamaah Perjam
Jeddah-RoL --Tekad keras Kerajaan Arab Saudi dalam mewujudkan keselamatan para tamu Allah setiap musim haji, antaranya pelontaran jamarat Mina. Untuk menghindari terjadinya kemacetan dan berdesak-desakan di pelontaran Jamarat Mina. Pengembangan jembatan jamarat sedang digarap siang malam untuk lebih memperluas sampai empat lantai dan dapat menampung 240 ribu jamaah haji perjam.
DR. Ir. Habib Zainal Abidin, Deputi Kementerian Urusan Tatanan Kota, melakukan inspeksi ke lokasi jembatan pelontaran jamarat mengatakan, "daya tampung pelontaran jamarat Mina mencapai 240 ribu jamaah haji dalam waktu satu jam dengan sirkulasi pergerakan sangat leluasa". Demikian dikutip pada harian Al Madinah edisi Kamis (08/11/2007).
Jembatan pelontaran jamarat Mina pada musim haji tahun ini sudah mencapai 4 lantai terdiri atas lantai dasar (lantai satu), lantai dua, lantai tiga dan lantai empat. "Saat ini sedang berlangsung pekerjaan penyelesaian jembatan pada lantai empat siang malam agar bisa berfungsi pada musim haji tahun 1428 ini dan semua pekerjaan akan selesai pada tanggal 10 Dzulqaeddah 1428 H," tegas Habib Zainal Abidin.
Jadwal pelontaran bagi jamaah haji akan tetap diatur waktunya sebagaimana telah berjalan tahun lalu.
Dr. Hatim Hasan Qadi, Deputy Kementerian Haji Arab Saudi sebelumnya telah menegaskan bahwa, "pengaturan jadwal waktu pelontaran jamaah haji tetap diberlakukan pada musim haji tahun ini."
Telah disusun program penjadwalan pelontaran jamaah haji melalui workshop (pengkajian) yang melibatkan unsur Keamanan Umum, Pertahanan Sipil, Palang Merah, Institut Pengkajian Haji Raja Fahd dan pihak Komite Tinggi Pengembangan kota Makkah, Madinah dan Masyair. Ini bertujuan untuk melakukan pengaturan jadwal waktu pelontaran jamaah haji secara rapi dan tertib.
Program dimaksud demi mewujudkan keselamatan para dhuyufurrahman saat menunaikan rangkaian ritual melontar jumrah di Mina.
yasin_santu@yahoo.com
JurnalHaji-Republika
Rabu, 14 Nopember 2007
DR. Ir. Habib Zainal Abidin, Deputi Kementerian Urusan Tatanan Kota, melakukan inspeksi ke lokasi jembatan pelontaran jamarat mengatakan, "daya tampung pelontaran jamarat Mina mencapai 240 ribu jamaah haji dalam waktu satu jam dengan sirkulasi pergerakan sangat leluasa". Demikian dikutip pada harian Al Madinah edisi Kamis (08/11/2007).
Jembatan pelontaran jamarat Mina pada musim haji tahun ini sudah mencapai 4 lantai terdiri atas lantai dasar (lantai satu), lantai dua, lantai tiga dan lantai empat. "Saat ini sedang berlangsung pekerjaan penyelesaian jembatan pada lantai empat siang malam agar bisa berfungsi pada musim haji tahun 1428 ini dan semua pekerjaan akan selesai pada tanggal 10 Dzulqaeddah 1428 H," tegas Habib Zainal Abidin.
Jadwal pelontaran bagi jamaah haji akan tetap diatur waktunya sebagaimana telah berjalan tahun lalu.
Dr. Hatim Hasan Qadi, Deputy Kementerian Haji Arab Saudi sebelumnya telah menegaskan bahwa, "pengaturan jadwal waktu pelontaran jamaah haji tetap diberlakukan pada musim haji tahun ini."
Telah disusun program penjadwalan pelontaran jamaah haji melalui workshop (pengkajian) yang melibatkan unsur Keamanan Umum, Pertahanan Sipil, Palang Merah, Institut Pengkajian Haji Raja Fahd dan pihak Komite Tinggi Pengembangan kota Makkah, Madinah dan Masyair. Ini bertujuan untuk melakukan pengaturan jadwal waktu pelontaran jamaah haji secara rapi dan tertib.
Program dimaksud demi mewujudkan keselamatan para dhuyufurrahman saat menunaikan rangkaian ritual melontar jumrah di Mina.
yasin_santu@yahoo.com
JurnalHaji-Republika
Rabu, 14 Nopember 2007
Penginapan Haji di Mina
Makkah- RoL-- Sebagai bagian dari upaya menyediakan lebih banyak akomodasi untuk jamaah haji di Mina, Kementerian Urusan Perkotaan dan Pedesaan Arab Saudi akan membuka lima dari enam gedung penginapan di lembah Mina itu dalam musim haji tahun ini.
Keenam gedung penginapan tersebut dapat menampung 19.200 jamaah haji. Enam gedung berlantai 13 itu dibagi dalam dua kategori, yaitu pertama berkategori A yang akan mengakomodasi 10.800 jamaah, sedangkan kategori B dalam bentuk rumah berkapasitas penampungan 8.400 jamaah.
Di lantai tiga pertama setiap bangunan dipakai untuk kantor pelayanan, restoran, klinik, dan ruang shalat. Sementara di lantai 10 sisanya yang masing-masing menampung 3.600 jamaah.
Setiap lantai, berukuran 1.220 meter per segi, memiliki 18 unit penginapan, di mana setiap ruang menampung 360 jamaah.
Sebagaimana bangunan kategori A, setiap unit kategori B masing-masing menampung 20 jamaah. antara/iina/mim
JurnalHaji-Republika
Selasa, 20 Nopember 2007
Keenam gedung penginapan tersebut dapat menampung 19.200 jamaah haji. Enam gedung berlantai 13 itu dibagi dalam dua kategori, yaitu pertama berkategori A yang akan mengakomodasi 10.800 jamaah, sedangkan kategori B dalam bentuk rumah berkapasitas penampungan 8.400 jamaah.
Di lantai tiga pertama setiap bangunan dipakai untuk kantor pelayanan, restoran, klinik, dan ruang shalat. Sementara di lantai 10 sisanya yang masing-masing menampung 3.600 jamaah.
Setiap lantai, berukuran 1.220 meter per segi, memiliki 18 unit penginapan, di mana setiap ruang menampung 360 jamaah.
Sebagaimana bangunan kategori A, setiap unit kategori B masing-masing menampung 20 jamaah. antara/iina/mim
JurnalHaji-Republika
Selasa, 20 Nopember 2007
Friday, January 4, 2008
Pelayanan Makan Jemaah di Arafah Relatif Lancar
Selasa, 18 Desember 2007 3:13:11 PM
Arafah(MCH)--Jamuan makan jemaah haji Indonesia di Arafah sejak kemarin malam telah belangsung dua kali yakni makan malam dan makan pagi Selasa(18/12) ini, relatif berjalan lancar. Tim Media Centre Haji (MCH) Muchus Budiraharjo melaporkan, pelayanan makan jemaah dengan model prasmanan disajikan dengan cara yang berbeda-beda. Di maktab 59, nasi, lauk dan buah diambilkan oleh petugas, hanya air putih yang diambil langsung oleh jemaah. Sementara di maktab 23, semua makanan dan buah diambil sendiri oleh jemaah dengan santai. Tim MCH lainnya Heru Takarinosagi melaporkan, pengaturan antrian makan prasmanan di Arafah ini oleh pihak katering diatur berjajar dua dan ada juga yang diatur bersilangan. “Pelayanan makan ini relatif lancar, karena para Karom ikut membantu mengatur antrian,” kata Heru. Menurut Heru, udara pagi ini di Arafah cukup dingin, sementara sejumlah jemaah haji berjalan-jalan di luar maktab berjemur diri, bahkan ada yang telah menaiki Jabal Rahmah (ts)
www.informasihaji.com
Arafah(MCH)--Jamuan makan jemaah haji Indonesia di Arafah sejak kemarin malam telah belangsung dua kali yakni makan malam dan makan pagi Selasa(18/12) ini, relatif berjalan lancar. Tim Media Centre Haji (MCH) Muchus Budiraharjo melaporkan, pelayanan makan jemaah dengan model prasmanan disajikan dengan cara yang berbeda-beda. Di maktab 59, nasi, lauk dan buah diambilkan oleh petugas, hanya air putih yang diambil langsung oleh jemaah. Sementara di maktab 23, semua makanan dan buah diambil sendiri oleh jemaah dengan santai. Tim MCH lainnya Heru Takarinosagi melaporkan, pengaturan antrian makan prasmanan di Arafah ini oleh pihak katering diatur berjajar dua dan ada juga yang diatur bersilangan. “Pelayanan makan ini relatif lancar, karena para Karom ikut membantu mengatur antrian,” kata Heru. Menurut Heru, udara pagi ini di Arafah cukup dingin, sementara sejumlah jemaah haji berjalan-jalan di luar maktab berjemur diri, bahkan ada yang telah menaiki Jabal Rahmah (ts)
www.informasihaji.com
Monday, November 26, 2007
Sebanyak 3.811 Petugas akan Layani Jamaah Haji di Arab Saudi
Senin, 19 Nopember 2007
Jakarta--RoL-- Sebanyak 3.811 petugas akan melayani dan menangani keperluan para jamaah haji Indonesia selama mereka melaksanakan ibadah haji di Arab Saudi, kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen Agama, Slamet Riyanto. "Untuk memberikan pelayanan kepada jamaah haji di Arab Saudi telah disiapkan 3.811 orang petugas yang terdiri atas 2.415 petugas kloter, 836 petugas nonkloter, dan 560 tenaga musiman," katanya di Jakarta, Senin. Menurut Slamet, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi telah siap menyambut dan memberikan pelayanan kepada jamaah haji, baik pelayanan umum, ibadah, maupun kesehatan. Mengenai tempat tinggal di tanah suci, ia mengemukakan bahwa pemondokan di Mekkah dan Madinah menggunakan sistem proporsional dalam rangka memberikan rasa keadilan, yaitu jemaah membayar sebesar sewa rumah yang ditempati.Sedangkan untuk jemaah haji yang pulang melalui bandara King Abdul Azis, Jeddah, akan ditransitkan selama satu hari di Jeddah. "Untuk keperluan transit telah disiapkan 10 buah hotel di Jeddah," kata Slamet. Mengenai pelayanan katering di Arafah dan Mina, ia mengemukakan bahwa hal tersebut telah dirancang sebaik mungkin dengan bekerja sama dengan perusahaan Muassasah Asia Tenggara.Selain itu, ujar Slamet, pola pelayanan jemaah dirancang agar mudah diakses oleh jemaah dan memiliki jangkauan yang luas. "Di Mekkah dibuka pos sebanyak 15 sektor dan 1 sektor khusus, di Madinah 8 sektor, dan di Jeddah dua sektor," katanya.Slamet juga memaparkan, berdasarkan sistem penanggalan di kalender Arab Saudi, pelaksanaan wukuf di Arafah akan jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah 1428 H bertepatan dengan hari Rabu tanggal 19 Desember 2007.Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Departemen Agama, jamaah calon haji biasa yang akan diberangkatkan ke tanah suci berjumlah 193.429 orang sedangkan jamaah haji khusus berjumlah 16.293 orang. Jamaah haji biasa diangkut dalam 483 kloter oleh dua maskapai penerbangan yaitu oleh Garuda Indonesia (288 kloter) dan Saudi Arabian Airlines (195 kloter).Mereka diberangkatkan dari 11 embarkasi yaitu Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Palembang, Jakarta, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar. Sedangkan jamaah haji khusus diberangkatkan dengan penerbangan reguler oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus masing-masing. Antara/yto
(Republika-Jurnal Haji).
Jakarta--RoL-- Sebanyak 3.811 petugas akan melayani dan menangani keperluan para jamaah haji Indonesia selama mereka melaksanakan ibadah haji di Arab Saudi, kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen Agama, Slamet Riyanto. "Untuk memberikan pelayanan kepada jamaah haji di Arab Saudi telah disiapkan 3.811 orang petugas yang terdiri atas 2.415 petugas kloter, 836 petugas nonkloter, dan 560 tenaga musiman," katanya di Jakarta, Senin. Menurut Slamet, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi telah siap menyambut dan memberikan pelayanan kepada jamaah haji, baik pelayanan umum, ibadah, maupun kesehatan. Mengenai tempat tinggal di tanah suci, ia mengemukakan bahwa pemondokan di Mekkah dan Madinah menggunakan sistem proporsional dalam rangka memberikan rasa keadilan, yaitu jemaah membayar sebesar sewa rumah yang ditempati.Sedangkan untuk jemaah haji yang pulang melalui bandara King Abdul Azis, Jeddah, akan ditransitkan selama satu hari di Jeddah. "Untuk keperluan transit telah disiapkan 10 buah hotel di Jeddah," kata Slamet. Mengenai pelayanan katering di Arafah dan Mina, ia mengemukakan bahwa hal tersebut telah dirancang sebaik mungkin dengan bekerja sama dengan perusahaan Muassasah Asia Tenggara.Selain itu, ujar Slamet, pola pelayanan jemaah dirancang agar mudah diakses oleh jemaah dan memiliki jangkauan yang luas. "Di Mekkah dibuka pos sebanyak 15 sektor dan 1 sektor khusus, di Madinah 8 sektor, dan di Jeddah dua sektor," katanya.Slamet juga memaparkan, berdasarkan sistem penanggalan di kalender Arab Saudi, pelaksanaan wukuf di Arafah akan jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah 1428 H bertepatan dengan hari Rabu tanggal 19 Desember 2007.Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Departemen Agama, jamaah calon haji biasa yang akan diberangkatkan ke tanah suci berjumlah 193.429 orang sedangkan jamaah haji khusus berjumlah 16.293 orang. Jamaah haji biasa diangkut dalam 483 kloter oleh dua maskapai penerbangan yaitu oleh Garuda Indonesia (288 kloter) dan Saudi Arabian Airlines (195 kloter).Mereka diberangkatkan dari 11 embarkasi yaitu Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Palembang, Jakarta, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar. Sedangkan jamaah haji khusus diberangkatkan dengan penerbangan reguler oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus masing-masing. Antara/yto
(Republika-Jurnal Haji).
Menag Optimis Masalah Pemondokan dan Katering Haji tidak Terulang Lagi
Sabtu, 17 Nopember 2007
Jakarta-RoL-- Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni menyatakan optimismenya bahwa masalah pemondokan dan katering haji seperti yang terjadi pada ibadah haji tahun 2006 tidak akan terulang kembali pada ibadah tahun ini."Kami sekarang ini betul-betul mempersiapkan pemondokan dan katering haji sehingga apa yang terjadi pada tahun lalu tidak akan terjadi kembali," katanya kepada wartawan setelah acara pelepasan kloter pertama jamaah haji Indonesia di Bandar Udara Soekarno-Hatta Jakarta, Sabtu.Menag menuturkan, sistem pemondokan bagi para jamaah haji kini telah diperbaiki sehingga tidak akan ada lagi pemadatan peserta haji di sejumlah pemondokan.Untuk itu, ia juga berharap agar para peserta ibadah haji dapat mematuhi aturan dan tidak berpindah-pindah pemondokan seenaknya.Maftuh memaparkan, hanya sekitar 34.000 dari 210.000 orang jamaah yang mendapat tempat di dekat Masjidil Haram, sedangkan sisanya mendapat tempat yang lebih jauh. "Kami menyediakan 'shuttle bus' gratis untuk mengantar jamaah haji yang tempatnya jauh," katanya.Mengenai masalah katering, Menag mengemukakan bahwa pada ibadah haji tahun 2007 ini pihaknya akan menjalankan sistem kerjasama sebaik mungkin dengan perusahaan penyedia jasa katering."Kami merancang kerjasama dengan baik dan tidak menyerahkan masalah katering secara total atau sepenuhnya kepada mereka (perusahaan katering)," katanya.Maftuh mengingatkan bahwa sekitar 210.000 peserta ibadah haji Indonesia harus dilayani sehingga tidaklah tepat bila membandingkan pelayanan haji jamaah Indonesia dengan negara lain yang jumlah peserta ibadah hajinya lebih sedikit seperti Malaysia yang hanya mengurus sekitar 8.000 calon haji.Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Departemen Agama per tanggal 16 November 2007, jamaah haji biasa yang akan diberangkatkan ke tanah suci berjumlah 193.429 orang sedangkan jamaah haji khusus berjumlah 16.293 orang.Jamaah haji biasa diangkut dalam 483 kloter oleh dua maskapai penerbangan yaitu oleh Garuda Indonesia (288 kloter) dan Saudi Arabian Airlines (195 kloter). Mereka diberangkatkan dari 11 embarkasi yaitu Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Palembang, Jakarta, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.Sedangkan jamaah haji khusus diberangkatkan dengan penerbangan reguler oleh Penyelenggara Ibadah HAji Khusus masing-masing. antara/abi
(Jurnal Haji-Republika)
Jakarta-RoL-- Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni menyatakan optimismenya bahwa masalah pemondokan dan katering haji seperti yang terjadi pada ibadah haji tahun 2006 tidak akan terulang kembali pada ibadah tahun ini."Kami sekarang ini betul-betul mempersiapkan pemondokan dan katering haji sehingga apa yang terjadi pada tahun lalu tidak akan terjadi kembali," katanya kepada wartawan setelah acara pelepasan kloter pertama jamaah haji Indonesia di Bandar Udara Soekarno-Hatta Jakarta, Sabtu.Menag menuturkan, sistem pemondokan bagi para jamaah haji kini telah diperbaiki sehingga tidak akan ada lagi pemadatan peserta haji di sejumlah pemondokan.Untuk itu, ia juga berharap agar para peserta ibadah haji dapat mematuhi aturan dan tidak berpindah-pindah pemondokan seenaknya.Maftuh memaparkan, hanya sekitar 34.000 dari 210.000 orang jamaah yang mendapat tempat di dekat Masjidil Haram, sedangkan sisanya mendapat tempat yang lebih jauh. "Kami menyediakan 'shuttle bus' gratis untuk mengantar jamaah haji yang tempatnya jauh," katanya.Mengenai masalah katering, Menag mengemukakan bahwa pada ibadah haji tahun 2007 ini pihaknya akan menjalankan sistem kerjasama sebaik mungkin dengan perusahaan penyedia jasa katering."Kami merancang kerjasama dengan baik dan tidak menyerahkan masalah katering secara total atau sepenuhnya kepada mereka (perusahaan katering)," katanya.Maftuh mengingatkan bahwa sekitar 210.000 peserta ibadah haji Indonesia harus dilayani sehingga tidaklah tepat bila membandingkan pelayanan haji jamaah Indonesia dengan negara lain yang jumlah peserta ibadah hajinya lebih sedikit seperti Malaysia yang hanya mengurus sekitar 8.000 calon haji.Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Departemen Agama per tanggal 16 November 2007, jamaah haji biasa yang akan diberangkatkan ke tanah suci berjumlah 193.429 orang sedangkan jamaah haji khusus berjumlah 16.293 orang.Jamaah haji biasa diangkut dalam 483 kloter oleh dua maskapai penerbangan yaitu oleh Garuda Indonesia (288 kloter) dan Saudi Arabian Airlines (195 kloter). Mereka diberangkatkan dari 11 embarkasi yaitu Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Palembang, Jakarta, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.Sedangkan jamaah haji khusus diberangkatkan dengan penerbangan reguler oleh Penyelenggara Ibadah HAji Khusus masing-masing. antara/abi
(Jurnal Haji-Republika)
Pelayanan Terpadu Haji Siap
Senin, 5 Nopember 2007 2:05:21 PM
Jakarta (MC). Pelayanan Terpadu pelaksanaan haji sudah sangat siap menyambut kedatangan jemaah haji tahun 1428 Hijriyah ini. Menurut Dr. Yusuf Hawalah, Pimpinan Pelayanan Terpadu Jemaah Haji Arab Saudi, pihaknya sudah siap melayani jemaah haji yang akan datang sejak tanggal 10 November ini. "Persiapan kami di semua kota penyambutan jemaah haji sudah siap," katanya seperti dikutip harian Al-Watan edisi Senin, 5 November.Kantor pelayanan terpadu Arab Saudi melayani khusus kedatangan dan pemulangan jemaah termasuk pengaturan transportasinya.Hawalah melakukan rapat persiapan terutama di Madinah dan Jeddah yang menjadi pintu gerbang utama jemaah haji melalui udara. Jeddah dan Yanboo akan menjadi pintu masuk dan keluar jemaah haji melalui laut. Sementara pintu masuk darat untuk jemaah haji asal Mesir, Yordania, Turki, Rusia, juga Ar-ar untuk wilayah Irak, dan sejumlah negara Teluk melalui jembatan Raja Fahd.
(Musthafa Helmy;informasihaji.com)
Jakarta (MC). Pelayanan Terpadu pelaksanaan haji sudah sangat siap menyambut kedatangan jemaah haji tahun 1428 Hijriyah ini. Menurut Dr. Yusuf Hawalah, Pimpinan Pelayanan Terpadu Jemaah Haji Arab Saudi, pihaknya sudah siap melayani jemaah haji yang akan datang sejak tanggal 10 November ini. "Persiapan kami di semua kota penyambutan jemaah haji sudah siap," katanya seperti dikutip harian Al-Watan edisi Senin, 5 November.Kantor pelayanan terpadu Arab Saudi melayani khusus kedatangan dan pemulangan jemaah termasuk pengaturan transportasinya.Hawalah melakukan rapat persiapan terutama di Madinah dan Jeddah yang menjadi pintu gerbang utama jemaah haji melalui udara. Jeddah dan Yanboo akan menjadi pintu masuk dan keluar jemaah haji melalui laut. Sementara pintu masuk darat untuk jemaah haji asal Mesir, Yordania, Turki, Rusia, juga Ar-ar untuk wilayah Irak, dan sejumlah negara Teluk melalui jembatan Raja Fahd.
(Musthafa Helmy;informasihaji.com)
Masjid Nabawi Dibuka 24 Jam
Selasa, 23 Oktober 2007 12:46:26 PM
Jakarta (MCH). Kabar gembira buat jemaah haji dan umrah. Sebab. Raja Abdullah yang juga sebagai Khadimul Haramain telah memutuskan untuk membuka Masjid Nabawi selama 24 jam dan tujuh hari sepekan. Sebab, selama ini Masjid Nabawi selalu ditutup sejak pukul 21.00 dan dibuka kembali pukul 03.00 dinihari. "Ini berita besar ketika Raja Abdullah mengumumkan bahwa Masjid Nabawi terbuka selama 24 jam untuk beribadah," kata Saeed Raddadi, warga Madinah yang dikutip harian Atab News edisi Senin, 22 Oktober. Sayangnya, kata Raddadi, ia sering melihat kesempatan itu dimanfaatkan orang untuk tidur di masjid. "Saya tidak ingin Masjid Nabawi dijadikan pangkalan tidur," katanya."Saya sangat berterima kasih kepada Khadimul Haramain Raja Abdullah yang telah membuka masjid ini selama 24 jam penuh. Ini ide yang brillian," kata Mahmoud Al-Masry, jemaah umrah asal Mesir. Ia meminta agar pengawasan jemaah juga ditingkatkan dengan dibukanya Masjid Nabawi. "Saya takut ada jemaah yang tak bisa bayar sewa hotel menginap di sini," katanya. (Musthafa Helmy; informasihaji.com
Jakarta (MCH). Kabar gembira buat jemaah haji dan umrah. Sebab. Raja Abdullah yang juga sebagai Khadimul Haramain telah memutuskan untuk membuka Masjid Nabawi selama 24 jam dan tujuh hari sepekan. Sebab, selama ini Masjid Nabawi selalu ditutup sejak pukul 21.00 dan dibuka kembali pukul 03.00 dinihari. "Ini berita besar ketika Raja Abdullah mengumumkan bahwa Masjid Nabawi terbuka selama 24 jam untuk beribadah," kata Saeed Raddadi, warga Madinah yang dikutip harian Atab News edisi Senin, 22 Oktober. Sayangnya, kata Raddadi, ia sering melihat kesempatan itu dimanfaatkan orang untuk tidur di masjid. "Saya tidak ingin Masjid Nabawi dijadikan pangkalan tidur," katanya."Saya sangat berterima kasih kepada Khadimul Haramain Raja Abdullah yang telah membuka masjid ini selama 24 jam penuh. Ini ide yang brillian," kata Mahmoud Al-Masry, jemaah umrah asal Mesir. Ia meminta agar pengawasan jemaah juga ditingkatkan dengan dibukanya Masjid Nabawi. "Saya takut ada jemaah yang tak bisa bayar sewa hotel menginap di sini," katanya. (Musthafa Helmy; informasihaji.com
Miniatur Rumah Rasulullah Bisa Disaksikan di Madinah
Kamis, 4 Oktober 2007 4:22:19 PM
Jakarta (MCH). Berbeda dengan rumah kelahiran Rasulullah SAW yang kini tengah dibongkar untuk dijadikan hotel di Mekah, rumah tinggal Rasulullah justru direkonstruksi kembali untuk dibangun dan dijadikan monumen sejarah Islam.Sebuah miniatur rumah Rasukullah yang dihuni beliau 1.400 tahun yang lalu akan bisa disaksikan kaum muslimin yang tengah menunaikan umrah dan haji tahun ini. Rumah Rasulullah itu telah dibuat maketnya oleh Pusat Riset dan Studi Madinah. Demikian seperti diberitakan harian Saudi Gazette edisi Kamis, 4 Oktober. Miniatur tersebut berikuran 1:7 dengan model aslinya. Rumah dibuat dari kayu pohon palm dan bertembok Lumpur yang menjadi ciri rumah zaman itu. Miniatur tersebut juga membuat bentuk Masjid Nabawi serta rumah Sayyidah Fathimah Azzahra, puteri Rasulullah.Miniatur juga menggambarkan di mana kamar Sayyidah Asyah Ummul Mukminin, serta dapur di mana keluarga Rasululah memasak. Di tengan ruangan rumah itu terdapat sebuah ruangan yang bisa memuat sekitar 10 orang, sebagai ruang pertemuan keluarga Rasulullah.Miniatur tersebut dibuat dengan mencoba memahami sejarah, hadis, dan kebiasaan warga Arab Madinah kala itu dengan memanfaatkan jasa komputer. Menurut Dr. Abdul-Basit Bader, direktur pusat riset itu, maksud membuat miniatur rumah Rasulullah SAW itu tak lain untuk memberi keteladanan kepada umatnya bagaimana membangun rumah serta rumah tangga yang sakinah.Umat juga bisa melihat betapa sederhananya Rasululah. Tapi, justru dari rumah yang sederhana itu muncul kekuatan dakwah yang maha hebat yang mengalahkan beberapa imperium dengan istana yang bergelimang kemewahan. (Musthafa Helmy ; informasihaji.com)
Jakarta (MCH). Berbeda dengan rumah kelahiran Rasulullah SAW yang kini tengah dibongkar untuk dijadikan hotel di Mekah, rumah tinggal Rasulullah justru direkonstruksi kembali untuk dibangun dan dijadikan monumen sejarah Islam.Sebuah miniatur rumah Rasukullah yang dihuni beliau 1.400 tahun yang lalu akan bisa disaksikan kaum muslimin yang tengah menunaikan umrah dan haji tahun ini. Rumah Rasulullah itu telah dibuat maketnya oleh Pusat Riset dan Studi Madinah. Demikian seperti diberitakan harian Saudi Gazette edisi Kamis, 4 Oktober. Miniatur tersebut berikuran 1:7 dengan model aslinya. Rumah dibuat dari kayu pohon palm dan bertembok Lumpur yang menjadi ciri rumah zaman itu. Miniatur tersebut juga membuat bentuk Masjid Nabawi serta rumah Sayyidah Fathimah Azzahra, puteri Rasulullah.Miniatur juga menggambarkan di mana kamar Sayyidah Asyah Ummul Mukminin, serta dapur di mana keluarga Rasululah memasak. Di tengan ruangan rumah itu terdapat sebuah ruangan yang bisa memuat sekitar 10 orang, sebagai ruang pertemuan keluarga Rasulullah.Miniatur tersebut dibuat dengan mencoba memahami sejarah, hadis, dan kebiasaan warga Arab Madinah kala itu dengan memanfaatkan jasa komputer. Menurut Dr. Abdul-Basit Bader, direktur pusat riset itu, maksud membuat miniatur rumah Rasulullah SAW itu tak lain untuk memberi keteladanan kepada umatnya bagaimana membangun rumah serta rumah tangga yang sakinah.Umat juga bisa melihat betapa sederhananya Rasululah. Tapi, justru dari rumah yang sederhana itu muncul kekuatan dakwah yang maha hebat yang mengalahkan beberapa imperium dengan istana yang bergelimang kemewahan. (Musthafa Helmy ; informasihaji.com)
Mabit di Muzdalifah Dimaklumi
Kamis, 4 Oktober 2007 1:24:06 PM
Jakarta (MCH). Bermalam di Muzdalifah bagi jemaah haji yang ditempatkan di kawasan Muhassir akibat tidak ada tempat disebabkan terlampau ramai jemaah haji adalah sesautu yang harus dimaklumi. Hal ini dikemukakan Pengarah Pembinaan Tabung Haji Malaysia, Tengku Aziz Raja Abdullah seperti dikutip Berita Harian edisi beberapa hari lalu.Menurut Aziz, arahan Kerajaan Arab Saudi menyatakan bahwa kawasan itu adalah kawasan untuk bermalam di Muzdalifah, sedangkan kawasan yang seharusnya tidak ditempatkan jemaah haji. Tempat itu dinamakan Muhassir, lembah yang terletak antara Muzdalifah dan Mina. Mengikut pendapat Imam Syafi’ie dalam Al-Umm, Muzdalifah bermula daripada dua Ma`zamain (banjaran) Arafah hingga sampai ke Qam (tunduk lingkungan) Muhassir. Qam Muhassir ialah tempat di sebelah kanan dan kiri tempat berkenaan. Tempat belakang, hadapan, lembah dan bukit kawasan itu semuanya adalah Muzdalifah. Permasalahan yang timbul kini, jumlah jemaah haji semakin bertambah dari setahun ke setahun. Justru, apakah dibolehkan jemaah menjadikan tempat bermalam diluaskan ke kawasan Mina/Muzdalifah melebihi kawasan asal iaitu Muhassir. Apakah boleh dan sah bermalam di Muzdalifah di luar kawasan asal yang sudah ditentukan. Apakah kawasan yang dimaksudkan Muhassir itu sah dengan memanfaatkan Muzdalifah disebabkan keadaan darurat dalam suasana jemaah haji yang terlampau ramai. Nabi SAW tidak menjelaskan secara tepat batas Muzdalifah dan Mina. “Hal ini menjadi bahan ijtihad fukaha kerana ketiadaan nas qat`ie (jelas) mengenainya.” Aziz mengutip pendapat Prof Dr Wahbah Al Zuhali yang menyatakan bahwa Batnu (wadi) Muhassir adalah kawasan antara Mina dan Muzdalifah. Al-Hanafiah menyatakan makruh bermalam Muzdalifah di Muhassir, tetapi jika bermalam juga di situ ia tetap sah tetapi makruh. Juga mafhum daripada kata Iman Al Hanafiah ini, boleh bermalam dalam keadaan terpaksa dan sah menurut Al-Hanafiah juga bermalam keseluruhan malam hingga ke fajar hari ke 10 Zulhijah di Muzdalifah adalah sunat, tetapi berhenti atau lalu sekejap dalam sebarang keadaan di Muzdalifah adalah wajib. Bekas Ketua Hakim Syarie Qatr, Al Syeikh Abdullah Zaid Al-Mahmud pula menyatakan jika Mina dipenuhi manusia, maka harus untuk turun bermalam di mana-mana kawasan sekitarnya daripada bumi Muzdalifah, Arafah atau Muhassir. “Ia berlaku akibat darurat yang perlu diambil menurut kadarnya dan kesulitan mendatangkan kesenangan.” Mufti Besar Arab Saudi, Al-Marhum Al-Syaik Ben Bez pula menfatwakan apabila seorang jemaah haji berusaha mencari tempat untuk bermabit di Mina tetapi tidak mendapat tempat, maka tidak menjadi masalah dia bermabit di luarnya dan tiada dam baginya kerana dia tiada kemampuan. Menurut Prof Manna` Khalil al- Qatthan, adalah boleh menganggap semua tempat ini sebagai tempat Mauqif (berhenti) dan mabit (bermalam) atas dua sebab: Pertama, kaedah umum fikih (darurat membenarkan perkara yang luar daripada kebiasaan). Kedua, kaedah usul fikih (hajat boleh menempati tempat darurat yang am atau khas) Jelasnya, jika hukum ini berlaku kepada bermalam di Muzdalifah dikira sah, maka ia juga boleh diterima jika perkara ini berlaku kepada masalah bermalam di Mina. Dengan kata lain, sah jika dalam keadaan darurat bermalam di Muhassir kerana ketiadaan tempat untuk bermalam. Keadaan itu juga boleh berlaku kepada bumi Mina, jika tidak ada tempat untuk bermalam di Mina disebabkan tidak ada tempat duduk yang sempurna dan juga bersandar kepada keselamatan jemaah haji walaupun di Muhassir. Oleh itu, perlu diingat juga perubahan, pembaharuan dan pembangunan yang dibuat oleh Kerajaan Arab Saudi, seperti jamarat, tempat sai, kawasan Masjidil Haram dan lain-lain tempat sudah disepakati menjadi daerah perbadatan haji. (MH; informasihaji com)
Jakarta (MCH). Bermalam di Muzdalifah bagi jemaah haji yang ditempatkan di kawasan Muhassir akibat tidak ada tempat disebabkan terlampau ramai jemaah haji adalah sesautu yang harus dimaklumi. Hal ini dikemukakan Pengarah Pembinaan Tabung Haji Malaysia, Tengku Aziz Raja Abdullah seperti dikutip Berita Harian edisi beberapa hari lalu.Menurut Aziz, arahan Kerajaan Arab Saudi menyatakan bahwa kawasan itu adalah kawasan untuk bermalam di Muzdalifah, sedangkan kawasan yang seharusnya tidak ditempatkan jemaah haji. Tempat itu dinamakan Muhassir, lembah yang terletak antara Muzdalifah dan Mina. Mengikut pendapat Imam Syafi’ie dalam Al-Umm, Muzdalifah bermula daripada dua Ma`zamain (banjaran) Arafah hingga sampai ke Qam (tunduk lingkungan) Muhassir. Qam Muhassir ialah tempat di sebelah kanan dan kiri tempat berkenaan. Tempat belakang, hadapan, lembah dan bukit kawasan itu semuanya adalah Muzdalifah. Permasalahan yang timbul kini, jumlah jemaah haji semakin bertambah dari setahun ke setahun. Justru, apakah dibolehkan jemaah menjadikan tempat bermalam diluaskan ke kawasan Mina/Muzdalifah melebihi kawasan asal iaitu Muhassir. Apakah boleh dan sah bermalam di Muzdalifah di luar kawasan asal yang sudah ditentukan. Apakah kawasan yang dimaksudkan Muhassir itu sah dengan memanfaatkan Muzdalifah disebabkan keadaan darurat dalam suasana jemaah haji yang terlampau ramai. Nabi SAW tidak menjelaskan secara tepat batas Muzdalifah dan Mina. “Hal ini menjadi bahan ijtihad fukaha kerana ketiadaan nas qat`ie (jelas) mengenainya.” Aziz mengutip pendapat Prof Dr Wahbah Al Zuhali yang menyatakan bahwa Batnu (wadi) Muhassir adalah kawasan antara Mina dan Muzdalifah. Al-Hanafiah menyatakan makruh bermalam Muzdalifah di Muhassir, tetapi jika bermalam juga di situ ia tetap sah tetapi makruh. Juga mafhum daripada kata Iman Al Hanafiah ini, boleh bermalam dalam keadaan terpaksa dan sah menurut Al-Hanafiah juga bermalam keseluruhan malam hingga ke fajar hari ke 10 Zulhijah di Muzdalifah adalah sunat, tetapi berhenti atau lalu sekejap dalam sebarang keadaan di Muzdalifah adalah wajib. Bekas Ketua Hakim Syarie Qatr, Al Syeikh Abdullah Zaid Al-Mahmud pula menyatakan jika Mina dipenuhi manusia, maka harus untuk turun bermalam di mana-mana kawasan sekitarnya daripada bumi Muzdalifah, Arafah atau Muhassir. “Ia berlaku akibat darurat yang perlu diambil menurut kadarnya dan kesulitan mendatangkan kesenangan.” Mufti Besar Arab Saudi, Al-Marhum Al-Syaik Ben Bez pula menfatwakan apabila seorang jemaah haji berusaha mencari tempat untuk bermabit di Mina tetapi tidak mendapat tempat, maka tidak menjadi masalah dia bermabit di luarnya dan tiada dam baginya kerana dia tiada kemampuan. Menurut Prof Manna` Khalil al- Qatthan, adalah boleh menganggap semua tempat ini sebagai tempat Mauqif (berhenti) dan mabit (bermalam) atas dua sebab: Pertama, kaedah umum fikih (darurat membenarkan perkara yang luar daripada kebiasaan). Kedua, kaedah usul fikih (hajat boleh menempati tempat darurat yang am atau khas) Jelasnya, jika hukum ini berlaku kepada bermalam di Muzdalifah dikira sah, maka ia juga boleh diterima jika perkara ini berlaku kepada masalah bermalam di Mina. Dengan kata lain, sah jika dalam keadaan darurat bermalam di Muhassir kerana ketiadaan tempat untuk bermalam. Keadaan itu juga boleh berlaku kepada bumi Mina, jika tidak ada tempat untuk bermalam di Mina disebabkan tidak ada tempat duduk yang sempurna dan juga bersandar kepada keselamatan jemaah haji walaupun di Muhassir. Oleh itu, perlu diingat juga perubahan, pembaharuan dan pembangunan yang dibuat oleh Kerajaan Arab Saudi, seperti jamarat, tempat sai, kawasan Masjidil Haram dan lain-lain tempat sudah disepakati menjadi daerah perbadatan haji. (MH; informasihaji com)
Arab Saudi Larang Jamaah Haji Bawa Bahan Makanan
Selasa, 9 Oktober 2007 5:26:00 PM
Riyadh(MCH)--Menindaklanjuti rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mencegah tersebarnya penyakit kolera, Kementerian Kesehatan Arab Saudi, Senin, mengatakan, jamaah haji yang membawa bahan makanan akan disita saat tiba di Arab Saudi.Kementerian itu menegaskan bahwa langkah itu semata-mata untuk merespon nasehat dari WHO, dan sejauh ini belum tersebarnya penyakit tersebut di negara itu."Kita telah melakukan langkah tepat untuk mencegah penyakit itu dan kita sepenuhnya melarang jamaah Umrah membawa makanan atau minuman," jurubicara Kementerian Kesehatan, Khalid Al-Mirghalani, dalam wawancara dengan Arab News seperti dilaporkan IINA.Menurutnya, kementerian itu sedang memfokuskan perhatian pada para jamaah yang datang dari negara yang dilaporkan terjangkitnya kolera, seperti Iran, Irak, dan Bangladesh."Kami juga telah menginstruksikan kepada Kedutaan Arab Saudi di negara-negara tersebut untuk menjamin bahwa hanya jamaah yang datang ke Saudi itu telah menjalani vaksinasi anti-kolera (Ant/ts; informasihaji.com)
Riyadh(MCH)--Menindaklanjuti rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mencegah tersebarnya penyakit kolera, Kementerian Kesehatan Arab Saudi, Senin, mengatakan, jamaah haji yang membawa bahan makanan akan disita saat tiba di Arab Saudi.Kementerian itu menegaskan bahwa langkah itu semata-mata untuk merespon nasehat dari WHO, dan sejauh ini belum tersebarnya penyakit tersebut di negara itu."Kita telah melakukan langkah tepat untuk mencegah penyakit itu dan kita sepenuhnya melarang jamaah Umrah membawa makanan atau minuman," jurubicara Kementerian Kesehatan, Khalid Al-Mirghalani, dalam wawancara dengan Arab News seperti dilaporkan IINA.Menurutnya, kementerian itu sedang memfokuskan perhatian pada para jamaah yang datang dari negara yang dilaporkan terjangkitnya kolera, seperti Iran, Irak, dan Bangladesh."Kami juga telah menginstruksikan kepada Kedutaan Arab Saudi di negara-negara tersebut untuk menjamin bahwa hanya jamaah yang datang ke Saudi itu telah menjalani vaksinasi anti-kolera (Ant/ts; informasihaji.com)
Subscribe to:
Posts (Atom)
