Showing posts with label Tips Haji. Show all posts
Showing posts with label Tips Haji. Show all posts

Monday, February 16, 2009

WISATA KOTA JEDDAH




Undang A. Halim
Sumber: Tips Praktis Umrah dan Haji

Jamaah haji biasa memanfaatkan waktu
tunggu kembali ke Tanah Air dengan berbelanja
suvenir di Jeddah. Pada musim haji, hampir di seluruh
pelosok pasar dan pusat perbelanjaan selalu terlihat
rombongan jamaah haji Indonesia.
Di negara Saudi, hampir semua wanitanya
mengenakan pakaian abaya hitam dengan cadar di
kepala kalau mau keluar rumah, berbelanja dan
lainnya. Seluruh badan tertutup rapat, dan yang
kelihatan hanya kedua matanya saja. Sangat susah
menemukan wanita yang memakai warna baju lain
selain hitam.
Bila ada wanita berpakaian abaya hitam
tanpa cadar sehingga mukanya kelihatan terbuka bisa
dipastikan itu adalah kaum pendatang yang bekerja
di Saudi, termasuk di dalamnya para TKW Indonesia.
Wanita yang non-muslim pun, biasanya
pramugari atau perawat, bisa tetap menggunakan
jubah hitam dengan rambut tergerai.
Suasana Jeddah memang beda dengan kota
Mekah, sebagai konsekuensi kota Internasional. Tapi
suasana ritualnya tetap lain. Menjelang waktu salat
Zuhur atau Asar misalnya, semua toko termasuk
hipermarket dan restoran di area pertokoan tutup
selama setengah sampai satu jam. Selesai salat wajib,
baru dibuka kembali. Dan itu memang aturan
pemerintah Saudi bahwa semua kegiatan perniagaan
juga kantor akan tutup menjelang salat wajib.
Di negeri ini, suasana perniagaan justru akan
lebih ramai di malam hari. Pertokoan biasanya baru
tutup jam 3 pagi. Pengunjung dengan membawa
anak kecil pun masih berkeliaran pada jam 1 malam.
Ongkos taksi di Jeddah berkisar 10 – 30 riyal
(tawar-menawar). Dan jangan kaget bila di tengah
jalan sopirnya menaikkan lagi penumpang lain yang
searah dgn kita, itu memang biasa. Jadi,
penumpang wanita harus lebih berhati-hati. Di sini
taksi seperti bus angkutan umum saja layaknya.
Kota Jeddah terkenal dengan Laut Merahnya,
tempat orang berekreasi. Di tengah laut terdapat
“Pemancar Air Raja Fahd”, air mancur yang bisa
memancarkan air setinggi 260 meter dengan disinari
lampu yang bergantian warnanya, sangat indah. Bisa
kelihatan saat kita naik taksi di salah satu bagian kota
Jeddah.
Di sana juga dibangun 24 stasiun instalasi
pengolahan air laut yang dapat menghasilkan air
jernih dengan produksi 520 juta jeriken air per hari
untuk konsumsi sekitar 40 buah kota di Saudi.
Di kawasan Laut Merah ada masjid yang
selalu dicari oleh para wisatawan, termasuk jamaah
haji Indonesia. Masjid ini dikenal dengan sebutan
Masjid Terapung dan berada di pinggir laut.
Disebut Masjid Terapung karena air laut bisa
sampai ke halaman masjid saat air pasang.
Bangunannya indah dan dibangun dengan
arsitektur modern dengan hiasan kaligrafi di
dalamnya..

Tuesday, October 14, 2008

TIPS HAJI Selama di KOTA MEKAH


Sumber: TIPS PRAKTIS UMRAH & HAJI
(Ha Halim Ibnu Hafidz)


Apa saja yang perlu diperhatikan jamaah haji saat berada di kota Mekah?
Berhubung di kota Mekah berkumpul aneka bangsa dengan segala karakternya, dan juga kebiasaan bangsa Arab sendiri di sana yang belum tentu sama dengan kebiasaan di Indonesia maka Anda perlu memperhatikan hal-hal sbb.

o Jangan lupa dengan barang penting Anda, terutama ID Card, uang, dan barang berharga. Bila teledor meninggalkan suatu barang, meskipun sebentar, biasanya susah ditemukan lagi. Mungkin sudah dibersihkan oleh regu kebersihan yang selalu bekerja siang malam. Tapi tak ada salahnya Anda menanyakan kepada petugas konter urusan barang hilang (maktab mafqudat ) di halaman Masjidilharam.

o Di negara Saudi itu tak lazim ada seorang wanita berjalan sendirian. Biasanya beserta muhrimnya atau dengan beberapa temannya. Bila ada seorang wanita berjalan sendirian, dianggapnya wanita rada “nakal”, dan biasanya akan mendapat gangguan dari laki-laki iseng.

o Jamaah wanita jangan pergi ke toilet umum sendirian. Dikabarkan suka terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Demikian juga tatkala memasuki lift. Ajaklah selalu teman-teman Anda.

o Ketika menggunakan taksi, wanita jangan masuk duluan. Sebaliknya, bila mau turun taksi, wanita lah yang turun lebih dulu.

o Tak ada jaminan bersih dari pencuri di tempat keramaian. Jadi, tetap berhati-hatilah dengan dompet Anda, terutama di tempat berdesakan seperti ketika sedang tawaf.

o Bila memasuki Masjidilharam ikuti peraturan yang ada. Jangan membawa kamera misalnya, bakal diambil oleh tenaga keamanan, apalagi kalau membawa senjata tajam. Di sana banyak tenaga keamanan, baik pria maupun wanita.

o Ada beberapa stand petugas untuk menerima komplain dari jamaah. Sayangnya mereka kebanyakan hanya bicara bahasa Arab. Tak banyak yang mengerti bahasa lain termasuk bahasa Inggris.

o Masjidilharam amat luas, tempat wudu pun jauh. Bila Anda sering mengunjungi toilet, buatlah survei dulu, area mana saja yang lokasinya berdekatan dengan tempat wudu

o Anda mau ngirit uang ? Hampir setiap hari ada pembagian makanan gratis di jalan-jalan sekitar Masjidilharam berupa sedekah dari para dermawan Saudi. Makanan yang diberikan kadang berupa kue atau roti, nasi, minuman seperti jus. kurma, buah, yang jumlahnya sekitar 7-8 jenis. Syaratnya, harus turut mengantre dulu.

o Suatu ketika Anda kesasar di kota Mekah. Jangan panik, carilah bangunan yang memiliki bendera merah putih. Atau kembalilah ke Masjidilharam sambil mengingat-ingat, atau siapa tahu ketemu teman serombongan. Boleh juga tanya ke jamaah Indonesia lainnya, kadang ada yang tahu. Berdo’alah kepada Allah supaya diberi petunjuk.

DAFTAR ISI Buku Tips HAJI & UMRAH


1. Persiapan haji
2. Lima minggu di Tanah Suci
3. Urutan Amalan Ibadah Haji (Tamattu)
4. Kegiatan Ibadah Di Sekitar Mekah
o Tips Beribadah di Masjidil Haram
o Tawaf
o Kiat Mencium Hajar Aswad
o Maqom (tempat) Ijabah untuk Berdoa
o Sa’i
o Hindari Copet di Masjidil Haram
o Tips Selama di Arafah
o Mabit di Muzdalifah
o Tips Melontar Jumrah yang Aman
o Mencukur Rambut
o Ada Apa di Dalam Ka’bah
o Air Zamzam dan Keanehannya
5. Aktivitas di Kota Mekah
o Kiat Makan Hemat di Tanah Suci
o Tips Berbelanja Cerdik
o Rumah Bertingkat Lima belas
o Pengeluaran selama di Tanah Suci
o Mau Bawa HP?
o Beberapa Tips selama di Mekah
6. Madinah Al-Munawarrah
o Ibadah di Masjid Nabawi
o Tips Memburu Tempat di Raudah
UMRAH
7. Kegiatan Ibadah Umrah
8. Tips Memilih Agen Penyelenggara Umrah
9. Rincian Biaya Paket
10. Persyaratan Umrah
11. Perlengkapan Ibadah Umrah
12. Belanja Kado
13. Naik Taksi Mekah
14. Wisata Kota Jedah
LAIN-LAIN
15. Ziarah
16. Perbendaharaan Kata Bhs Arab
17. Daftar Penyelenggara Haji-Umrah

Monday, August 25, 2008

TIPS DI MASJIDILHARAM



Selama musim haji, Masjidilharam itu ramai terus selama 24 jam. Dikunjungi ratusan ribu jamaah. Mesjid
ini terbuka terus tanpa henti. Subhanalloh.
o Sungguh suatu rahmat yang luar biasa bagi
jamaah haji yang punya kesempatan beribadah
di Masjidilharam. Jamaah bisa melakukan
salat, membaca Al-Qur'an, tawaf, sai, i’tikaf,
atau ibadah lainnya yang terasa sangat
menenteramkan. Pahala salat di Masjidilharam
adalah 100.000 kali dibanding di mesjid biasa.
Jangan sia-siakan kesempatan ini.
o Masjidilharam mempunyai banyak pintu yang
diberi nama, nomor, dan ada yang diberi kode
warna. Jangan lupa, bila memasuki
Masjidilharam agar mencatat nomor atau nama
pintunya karena begitu luasnya mesjid ini.
Kalau tidak, kita bisa nyasar ketika pulang ke
pemondokan.
o Di Masjidilharam yang begitu luas, laki-laki
bercampur dengan wanita tak bisa sepenuhnya
terkontrol. Kadang ada saja wanita yang nyelip
di barisan laki-laki yang berakibat “diusirnya”
jamaah tersebut oleh askar (polisi keamanan)
mesjid, meskipun ada juga yang lolos dari
pengamatan. Daripada mengambil risiko,
mendingan Anda berpisah dari awal. Pria
berjalan bersama teman pria begitu juga
sebaliknya. Kalau pulangnya mau bersamasama,
berundinglah di mana nanti akan bertemu
setelah selesai salat, misalnya di pintu nomor
9, atau tempat khas lainnya.
o Banyak tempat wudu di sekitar Masjidilharam.
Tapi karena luasnya maka jaraknya rata-rata
jauh dari tempat kita duduk. Sangat merepotkan
bagi orang yang sering pergi ke toilet. Tapi ada
beberapa tempat wudu yang areanya lebih
dekat dengan lokasi ibadah. Sempatkan melihat
dulu peta Masjidilharam yang ditempel di
dinding atau tiang unuk mengetahui tempattempat
strategis.
o Di sekeliling Ka’bah atau di Masjidilharam,
sebaiknya kita selalu duduk di atas sajadah
untuk menghindari orang lain (dari negara lain)
duduk “seenaknya” di depan kita. Jangan heran,
tak jarang saat waktu salat di pelataran Ka’bah
(sekeliling Ka’bah) tiba-tiba ada orang asing
duduk di depan kita sehingga kita bakal
kesulitan kalau waktu salat berlangsung. Ini
lebih sering terjadi pada puncak musim haji,
saat dua jutaan orang diseluruh dunia sudah tiba
di Mekah. Kita harus siap menghadapi hal
semacam itu.
o Pada saat puncak musim haji, tak jarang saat
kita salat ada orang lewat “seenaknya” di depan
kita, seperti tak mengetahui bahwa ada orang
sedang salat. Para jamaah pun sepertinya sudah
memaklumi hal ini. Tapi upayakan, kita jangan
melakukan hal seperti itu.
o Tak jarang pula ada jamaah melangkahi orang
sedang salat sambil memegangi kepala yang
sedang sujud.
o Dalam kondisi puncak begini, siapkan mental
agar tidak mudah stres, marah, jengkel, cepat
tersinggung, dsb. Ingat, salah satu tugas kita di
sana adalah beribadah dan melatih kesabaran
kita.
o Jangan membawa benda-benda tajam seperti
pisau, silet, cutter, gunting (kecuali gunting
kecil untuk tahallul) saat masuk ke
Masjidilharam. Sebab bila tas diperiksa
kedapatan membawa barang-barang itu, akan
diambil askar.
o Bila tak terburu-buru, jangan keluar dari
Masjidilharam begitu bubaran salat. Tunggulah
sekitar seperempat jam supaya tak ikut
berdesak-desakan. Apalagi kalau pulangnya
harus melewati eskalator yang amat padat.

o Lampu merah di pinggir jalan berarti
kendaraan tak boleh jalan. Di Masjidilharam, kalau
lampu pintu masuk berwarna merah artinya jamaah
tak boleh masuk ke pintu mesjid itu, berhubung
mesjid sudah penuh. Kalau hijau, sebaliknya.
Akibatnya mesjid pun di setiap pintunya
diberi lampu merah sebagai tanda “Silakan
mencari pintu masuk lain” atau “Kalau sudah penuh
betul, silakan sholat di tangga masjid… Ya, tak jarang jamaah sholat hanya berdiri di tangga karena tempat duduk sudah penuh. Ada 129 pintu
dilengkapi dengan lampu penunjuk berwarna merah
dan hijau.

Selengkapnya bisa dilihat di:
Buku “Tips praktis Umrah & Haji
(Ha Halim Ibnu Hafidz).

Wednesday, July 30, 2008

AIR ZAMZAM GRATIS


Sumber: Tips Praktis Umrah & Haji
(Ha Halim Ibnu Hafidz)




Di area Masjidilharam, Anda bisa mendapatkan air zamzam di banyak tempat. Air ini tersedia di tempat tawaf, tempat sa’i, juga di halaman mesjid. Kita tinggal menekan keran dari termos besar air zamzam. Cangkirnya sudah tersedia, sekali pakai lalu buang.
Juga tersedia di tempat-tempat ziarah dan tempat lainnya.
Setiap jamaah juga bisa menenteng sebotol air zamzam dari Masjidilharam ke pemondokannya setiap saat. Dan yang luar biasa, semuanya gratis.
Subhanalloh.
o Bila mau menghemat, upayakan sepulang dari Masjidilharam menenteng air zamzam. Caranya, sediakan botol air mineral kosong atau kantong
plastik, lalu isi dengan air zamzam yang bertebaran di area mesjid. Setelah itu tinggal tenteng ke pemondokan dan nanti masukkan ke dalam botol penampungan yang lebih besar.
Dengan demikian, Anda bisa minum air zamzam yang berkhasiat itu setiap saat Anda haus.
o Pada umumnya cuaca di Arab Saudi bersuhu tinggi (panas) dengan kelembaban sangat
rendah. Oleh karena itu selama berada di Arab Saudi biasakan minum air setengah gelas setiap setengah jam walaupun tidak merasa haus.
o Air yang dapat diminum berupa: air zam-zam, air matang, minuman dalam kemasan dan
bermacam-macam sari buah.
o Apabila Anda mengalami batuk-pilek, sebaiknya minum air hangat dan hindari minum
air dingin.
o Untuk minuman di musim dingin Anda dapat memilih minuman, seperti susu panas, kopi susu panas, teh susu panas, air mineral, minuman jahe.
o Dianjurkan membeli kemasan minuman instan kegemaran Anda di Tanah Air sehingga di Tanah Suci Anda tinggal menyeduhnya dengan air panas saat mau minum.

Friday, July 4, 2008

PENGELUARAN SELAMA IBADAH HAJI


Ha Halim Ibnu Hafidz
Sumber: Buku “Tips praktis Umrah & Haji”



Biaya apa saja yang harus dikeluarkan selama tinggal di Tanah Suci?
Besar kecilnya tentu tergantung kepada rencana dan kemampuan Anda. Yang paling kecil, dengan dana living cost (1.500 riyal) yang dikembalikan pemerintah kepada para jamaah pun sudah cukup, tanpa perlu membawa uang tambahan.
Tapi kalau ada rencana membeli barang/kado yang lebih mahal (perhiasan emas dan barang kelas mahal lainnya), atau membeli barang dalam jumlah
banyak, ya harus nambah, sesuai keperluannya.

Biaya yang dikeluarkan selama di Tanah Suci di antaranya untuk:
1. Biaya makan. Bisa ngirit, bisa juga “pokoknya enak”,
2. Makanan kecil, minuman,
3. Suvenir; oleh-oleh (kacang arab, kurma, sajadah, tasbih, perhiasan emas, dll),
4. Membeli obat yang masih diperlukan,
5. Laundry, kalau tak mau nyuci sendiri,
6. Transport, misalnya untuk ziarah, umrah sunat, dll,
7. Membeli pulsa telepon pra bayar,
8. Pos atau biaya angkutan kelebihan barang,
9. Membayar dam (haji tamattu, dll),
10. Beramal di Mekah, Madinah, tempat ziarah, dll,
11. Keperluan darurat (misalnya sakit),
12. Membeli pakaian tambahan yang diperlukan, atau bila bagasi kita hilang,
13. Membeli barang lain (perhiasan, pakaian, dll).

Perkiraan Harga Barang/Jasa di Tanah Suci
Di Tanah Suci harga barang relatif stabil dari tahun ke tahun.
Kurma. Bervariasi dari 10 riyal sampai 100 riyal per kg. Kurma paling bagus adalah kurma nabi (Ajwa). Kurma paling rendah kualitasnya bisa 5 riyal.
• Membayar Dam untuk denda haji Tamattu berkisar antara 350 riyal – 500 riyal.
• Suvenir: sajadah 5 riyal – 100 riyal per buah. Yang cukup bagus mulai harga 15 riyal. Kopiah mulai dari 5 riyal. Tasbih 5 riyal – 15 riyal per lusin. Tentu saja ada pula yang kelas mahalnya.
• Buah-buahan: apel merah, jeruk Kino, sunkist, pisang cavendish semua harganya sekitar 5-10 riyal. Anggur 15-25 riyal.
• Laundry. Ada banyak jasa cuci di sekitar Masjidilharam. Biasa mereka kerjakan dalam 24 - 48 jam. Biayanya sekitar 2 riyal untuk kemeja dan 3 riyal untuk celana panjang.
• Mau beramal untuk pengemis? Biasanya orang memberi pengemis minimum satu riyal. Di sana sangat sulit mendapatkan pecahan di bawah satu riyal. Pengemis terdapat di sekitar Masjidilharam atau di tempat lainnya di pinggir jalan. Umumnya para wanita dengan membawa bayi atau anak kecil.
• Makan, per porsi: di kaki lima 3 – 5 riyal. Di warung makan 5 – 15 riyal. Di restoran menengah 10 – 50 riyal. Silakan pilih sendiri.

Wednesday, June 25, 2008

Kiat Makan Hemat selama Beribadah Haji.

Ha Halim Ibnu Hafidz
Sumber: Buku “Tips Praktis Umrah & Haji”.


Dalam melakukan ibadah haji, selama dalam perjalanan ibadah ke Arafah-Mina-Muzdalifah para jemaah diberi makan yang disediakan Muassasah. Tapi selama tinggal di kota Mekah (sekitar tiga minggu) jemaah harus mencari makan sendiri. Di Medinah (sekitar seminggu), meskipun kadang diberi jatah makan sekali sehari, tapi waktu makan lainnya harus membeli sendiri.
Namun, boleh dikatakan di Tanah Suci kita tak perlu khawatir dengan urusan makan. Banyak aneka ragamnya, mulai dari soto madura, bakso, gulai ayam, daging, ikan, sayuran, bakwan, perkedel, sampai bubur kacang hijau pun mudah didapat di sana.
Makanan khas negara-negara Arab berupa kebab atau semacam sate mudah pula. Kentucky Fried chicken juga tersedia.
Rasanya terlalu merepotkan diri kalau ada jemaah yang rajin-rajinnya bawa panci masak dari Tanah Air. Kita tinggal pilih makanan saja kok. Mau yang kelas murah, kelas kaki lima, ataupun kelas restoran, semua ada, asal pintar mencarinya.
Tapi beberapa jamaah yang punya kompor listrik kecil sih, nampaknya banyak juga yang mendapat manfaat. Bisa digunakan untuk memasak air panas untuk mie instan, atau menyeduh minuman khas tanah air yang sulit didapat di sana.
Mau masakan Betawi? Ternyata ada juga di sana. Lokasinya di daerah pertokoan sekitar Masjidil Haram. Bakso juga bisa didapat di sekitar Masjidil Haram, harganya 10 riyal seporsi. Yang rada susah ternyata mencari restoran Padang. Entah apa kok jarang benar ditemuinya, tidak seperti di Tanah Air yang bertebaran. Mungkin uda-uda di sana kesusahan mencari kelapa dan cabe, komponen utama masakan padang.
Kalau mau yang murahan sedikit, pergilah ke restoran-restoran kecil. Ukurannya kira-kira sebesar warung tegal di sini. Jumlah warungnya relatif lebih banyak yang terdapat di pinggir-pinggir jalan menuju Masjidil Haram. Di sini cukup bervariasi menunya. Ada soto, nasi campur, nasi rendang, ikan, ayam, telur, perkedel, dan banyak yang lainnya. Harga seporsinya mulai dari 5 riyal.
Ada yang lebih murah lagi, yaitu yang dijajakan di kaki lima. Ya, para mukimin wanita asal Indonesia, terutama suku madura, banyak menjajakan produk ini. Mereka umumnya berpakaian warna hitam-hitam dan gampang mencarinya.
Makanan kaki lima ini dijual per potong, berharga satu riyal. Jadi untuk sebungkus nasi, sepotong ikan, sekantong sayur misalnya, kita bayar 3 riyal. Produk ini sangat laku. Pedagangnya seringkali dikerumuni para pembeli.
Bila Jemaah membiasakan makan seperti ini, ditanggung deh, uang “living cost”- nya yang 1.500 riyal banyak nyisa untuk dibelanjakan oleh-oleh khas Arab. Di kota Mekah, pedagang jenis ini banyak bertebaran di sekitar pemondokan haji Indonesia. Di Madinah memang lebih sedikit jumlahnya, tapi ada, kalau tahu tempatnya.
Bila ingin mencoba makanan khas Arab, Anda bisa membeli sawerma. Bentuknya seperti hotdog, berupa irisan daging atau ayam dicampur sayuran dan dimasukan ke roti panjang. Harganya sekitar 3 riyal. Setiap calon haji pasti pernah melihat menu makanan ini karena setiap restoran besar maupun kedai-kedai, pasti menyediakan makanan ini.
Rasanya cukup enak dan biasanya banyak jemaah kita yang membeli makanan ini di sekitar Masjidilharam sambil menunggu tibanya waktu sholat. Juga ada jenis makanan lainnya yang rada cocok dengan lidah Indonesia.
Cara makan begini lebih simpel karena pedagangnya bertebaran sekitar masjid. Jadi jemaah yang jauh pemondokannya tak perlu pulang. Cukup beristirahat di sekitar halaman masjid sambil mengisi perut.
Mau makan masakan Arab, seperti kebuli, kebab, panggang sapi, ayam, atau kambing juga boleh. Harganya di atas 5 riyal. Ingat, sebelum makan ketahui dulu secara pasti berapa harganya. Oh ya, ayam panggang di sana dijual per satu ekor atau setengah ekor. Tak ada yang berupa potongan-potongan seperti di Bekasi, hehe…

Thursday, November 8, 2007

LIMA MINGGU DI TANAH SUCI



(Ha Halim Ibnu Hafidz)

Sumber: "Tips Praktis Umrah dan Haji"


Jamaah haji Indonesia umumnya tinggal di Tanah Suci selama 5 minggu, atau sekitar 38 hari untuk melakukan ibadah haji, kecuali jemaah haji plus ada yang lebih singkat.
Padahal ibadah haji yang rukun itu sebetulnya bisa dilakukan dalam seminggu saja. Kita rinci saja secara garis besar. Mengerjakan umrah saat baru tiba di Mekah, satu hari. Ibadah Haji ke Arafah, Muzdalifah, Mina sekitar 5 hari. Lalu tawaf ifadah dan Sa’i sehari, dan mengerjakan tawaf Wada ketika mau pulang meninggalkan Mekah.
Jadi, kenapa mesti 5 minggu? Ya, sebabnya kalau semua jemaah haji ingin tinggal hanya seminggu lamanya di Tanah Suci maka ketika pulang ke negeri asalnya kebanyakan orang harus berjalan kaki atau berenang. Betapa sulitnya menyediakan transportasi untuk dua ratus ribu orang sekaligus.


Jadi, sisa waktu yang 4 minggu di Tanah Suci itu bisa kita gunakan untuk mengerjakan ibadah sunat, seperti itikaf di Masjidilharam/Nabawi, zikir, membaca Qur’an, umrah sunat, ziarah, dll.
Banyak juga jamaah yang menggunakan sisa waktunya untuk “tawaf” di ….. Pasar Seng yang terkenal, alias berbelanja, berjalan-jalan mencari kado buat di bawa pulang ke Tanah Air.

Bagaimana Mengisi Sisa Waktu 4 Minggu?
Sebagian orang mengisinya dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sepenuh hati. Mereka menyadari, betapa mahalnya biaya perjalanan ke Mekah. Dan mungkin, cuma sekali ini saja bisa naik haji. Oleh karena itu, kesempatan sebulan di Tanah Suci itu digunakan betul-betul untuk beribadah.
Selain mengerjakan yang wajib, mereka juga banyak mengerjakan ibadah sunat. Betapa sayangnya membuang pahala maha besar secara begitu saja karena salat di Masjidilharam itu misalnya, pahalanya seratus ribu kali dibanding salat di masjid biasa.


Jemaah lain ada juga yang bersikap berbeda. Selesai melakukan ibadah haji di Arafah, berarti sudah boleh rileks, tinggal mengerjakan yang sunat-sunat aja kok. Lalu, mereka banyak menghabiskan waktunya untuk berbelanja di Pasar Seng atau pasar-pasar lainnya untuk mengumpulkan aneka tanda mata. Mirip shopping di tanah suci.
Dengan beragamnya sifat manusia maka beraneka pula tingkah laku mereka di Tanah Suci. Jadi, masih ada “gaya-gaya” moderat lainnya selain kedua model di atas. Memang, pahala itu urusan Tuhan. Kita serahkan saja soal itu mah kepadaNya.

Orang Indonesia….. beken.
Paling tidak, Anda pernah mendengar Pasar Seng, bukan? Di pasar ini banyak sekali pedagang Arab yang paham bahasa Indonesia. Kita seperti belanja di pasar Tanah Abang Jakarta saja layaknya.
Jadi, meskipun tak bisa berbahasa Arab, jangan khawatir, tak bakal kesulitan. Mereka bisa mengucapkan satu riyal, tiga riyal…..dst. Ya, pasar ini memang pasar pavorit orang Indonesia karena harga barangnya relatif murah.
Tapi tidak di Pasar Seng saja. Di pasar-pasar kaki lima lain pun orang Indonesia banyak dikenal. Banyak pedagang yang bisa ngomong Indonesia. Paling tidak, mengerti kata bilangan, dua, lima, sepuluh… , Indunusia bagus…., ayoo murah….. dll.
Para pedagang kaki lima banyak yang berteriak teriak “lima riyal… lima riyal….. ayoo”, padahal pembeli yang mengelilinginya itu ada orang afrika yang hitam atau Turki yang bule, selain orang Indonesia dan bangsa lainnya.
Rasanya, bahasa Indonesia seperti sudah menjadi bahasa kedua di sana. Mungkin, selain paling banyak jamaahnya, bangsa kita paling doyan dalam berbelanja, ehm………

Bagaimana Mengatur Uang Living Cost ?
Jamaah haji Indonesia mendapat living cost sebanyak 1.500 Riyal untuk biaya hidup selama menunaikan ibadah haji. Cukup untuk hidup selama 38 hari? Kalau kita hidup secara sederhana biasanya cukup. Tapi seandainya Anda mau makan di restoran terus, lalu banyak berbelanja barang yang mahal, ya mesti nambah.
Dari jatah 1.500 riyal itu, biasanya dikeluarkan 500 riyal untuk membayar dam (denda haji Tamattu) plus biaya perjalanan untuk ziarah ke beberapa tempat, dll.
Kalau ada biaya-biaya lainnya sebesar 100 riyal, kita masih punya sisa sekitar 900 riyal untuk biaya makan. Artinya, sehari harus menganggarkan sekitar 23.5 riyal, dengan asumsi kita berada di Tanah suci selama 38 hari.


Berapa biaya makan? Di Mekah ada beberapa rumah makan sederhana khas Indonesia. Ukuran ruangannya seperti warung tegal di sini lah. Biaya makan di tempat seperti ini adalah minimal 5 riyal satu porsi (soto, nasi rawon, nasi ikan, dll) Jika makan di restoran yang lebih besar, tentu lebih mahal lagi.
Disamping itu, ada juga pedagang nasi asongan yang lebih murah. Penjualnya yang mukimin wanita asal Indonesia, menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Harga jualnya 1 riyal per potong. Apa itu sepotong ikan, atau daging, atau nasi, atau ayam, semuanya berharga satu riyal.


Jadi, untuk mendapatkan: nasi, ikan, dan tahu misalnya, kita cuma perlu merogoh 3 riyal. Cukup murah. Buah-buahan juga bisa dibeli di sana. Jeruk Kino Pakistan seharga 5 riyal per kilo, apel 7 riyal, dst.
Kalau pengeluaran kita rata-rata 5 riyal sekali makan, dengan 3 kali makan sehari maka bujet kita masih cukup. Dengan syarat makanan sederhana itu tadi plus jeruk, hehe….
Dan belanja oleh-olehnya yang umum saja, seperti sajadah, tasbih, celak mata, jam dinding, dll. Kalau mau beli oleh-oleh yang mahal seperti emas Arab misalnya, itu sih mesti bawa uang tambahan.

Ngomong Arab
Sebelum berangkat haji, sempatkan beli buku bahasa Arab khusus untuk ibadah Haji. Ya, pokoknya belajar sebisanya, terutama belajar hitungan arab. Lumayan, buat bekal berbelanja nanti. Lebih bagus lagi kalau sudah punya dasar penguasaan bahasa Arab.
Di Masjidil Haram pun upayakan untuk sering berkomunikasi dengan jemaah haji asing lainnya. Tak mesti menggunakan bahasa Arab. Kadang lebih banyak menggunakan bahasa Inggris sebab jemaah haji asing yang ditemui bisa berasal dari Pakistan, Bangladesh, Turki, negara-negara afrika, dan negara lainnya yang bahasa keduanya bahasa Inggris.


Jadi, bagi yang buta bahasa Arab, tapi ngerti bahasa Inggris, jangan terlalu takut. Pengurus Muasassah yang keturunan Arab pun banyak mengerti bahasa Inggris. Apalagi petugas bandara. Bahkan di Pasar Seng pun cukup pakai bahasa Indonesia saja.

Melakukan Tiga Kali Umrah.
Berapa biaya melakukan ibadah umrah dari Indonesia? Paling tidak sepuluh juta rupiah sekali jalan. Kalau kita mau ibadah umrah sunat dari Mekah, biayanya cukup 10 riyal (kira-kira Rp 25.000,-) sekali umrah. Mau bukti?
Bila kita selesai melakukan Ibadah Haji ke Arafah (atau sebelumnya), kita bisa mengerjakan umrah sunat. Caranya, kita harus pergi dulu ke “miqat” (misalnya kota Tan’im) untuk memulai umrah, dengan berpakaian ihram.


Dari Mekah kita mesti pergi ke Tan’im naik bis. Jaraknya kira-kira 7 km, dengan biayanya sekitar 5 riyal sekali jalan. Bagi mereka yang tergabung dalam satu KBIH, cukup menyewa satu buah mobil dipakai ramai-ramai.
Sesampainya di Mesjid Tan’im, kita melakukan shalat sunat ihram, dan melakukan niat untuk umrah. Lalu, kita kembali lagi ke Mekah untuk melakukan Tawaf dan Sa’i, diakhiri tahallul. Semua pekerjaan ini bisa selesai dalam sekitar 3 jam.
Jamaah melakukan umrah sunat ini bisa sebanyak sekali, tiga kali, bahkan sampai tujuh kali. Pahala umrah ini bisa diperuntukkan bagi orangtuanya yang sudah tua atau meninggal, dan bagi keluarga lainnya.

Cukup 3 Setel Pakaian
Di Tanah Air, pembimbing haji ada yang berpesan agar kita membawa pakaian cukup 3 setel saja. Alasannya, di Tanah Suci itu pakaian tak cepat kotor. Jangan cemas, anjuran itu benar.
Di Mekah itu panas, tapi keringat di badan cepat kering, tak lengket seperti di Tanah air sini. Menurut ahlinya sih karena tingkat kelembaban udara sangat rendah. Jadi, keringat cepat pergi dan menjemur pakaian pun cepat kering, tak perlu seharian.
Kopor pakaian cukup isi seperlunya saja. Biarkan banyak bagian yang kosong. Yang lebih penting, kan, buat pulang ke Indonesia nanti, untuk memuat oleh-oleh alias tanda mata, hehe… Ingat lho, kopor kita tak boleh lebih berat dari 30 kg,

Main SMS saja……
Perlukah membawa telepon seluler ke tanah suci? Boleh bawa, buat sekedar berkomunikasi. Mengingat biayanya yang pasti aduhai, main SMS sajalah, tak perlu berhalo-halo kalau mau mengirit uang. Kecuali, berbicara untuk hal yang penting benar.
Yang perlu dicermati, ketika kita menerima panggilan dari tanah air pun biayanya hampir tak berbeda saat kita mengontak seseorang di tanah air (kena biaya roaming). Jadi berhati-hatilah dalam menjawab panggilan ponsel.
Alat komunikasi ini cukup berguna. Kita bisa bertukar info dengan keluarga di tanah air. Bahkan bisa juga menanyakan beberapa tatacara ibadah, yang belum difahami, kepada ustadz kita di tanah air.
Tanah suci adalah tempat untuk beribadah, sebaiknya gunakanlah seperlunya.

Air Zam zam dimana-mana…….
Air mineral harganya satu real per botol. (kira2 Rp 2.500). Softdrink juga sama, satu real. Minuman paling murah adalah Zam-zam, maksudnya gratis. Ya, di setiap sudut Masjidilharam kita bisa menemukan air zam zam, lengkap dengan cup/cangkirnya. Tinggal pijit, langsung bisa diminum. Di dalam masjid maupun di luar masjid, selalu teresedia.
Di Masjid Nabawi Madinah pun tersedia air sakral ini.



Jadi, Anda bisa mengirit biaya pengeluaran untuk minum di Tanah Suci dengan cara meminum air zamzam secara gratis setiap hari.


Friday, November 2, 2007

Tips Berbelanja di Tanah Suci



(Ha Halim Ibnu Hafidz)


Sumber: “Tips Praktis Umrah dan Haji”



Selama menunaikan ibadah haji, rasanya jemaah sulit lepas dari kegiatan belanja. Bahkan ada segelintir orang yang hampir setiap hari keluyuran di pasar atau toko sehabis salat Subuh di Masjidil Haram.
Sudah menjadi adat di Indonesia, setiap jemaah pulang dari berhaji selalu kedatangan tamu, baik kerabat maupun tetangga atau teman-temannya. Lazimnya dihidangkan air zamzam dan oleh-oleh dari tanah suci. Tak lupa memberikan kado untuk orang-orang dekatnya.
Mungkin kebiasaan inilah salah satu yang membuat jemaah haji merasa “wajib” atau afdal untuk berbelanja guna membawa kado atau oleh-oleh buat dibagikan.
Di samping itu, jemaah mungkin merasa punya kelebihan waktu semasa tinggal di kota Mekah (sekitar tiga minggu), juga di Medinah (sekitar seminggu) sebelum atau setelah melakukan ibadah haji di Arafah. Karena memang, setelah menunaikan ibadah haji wajib di Arafah, jemaah tinggal melaksanakan ibadah haji sunat saja dengan memanfaatkan sisa waktu yang ada.


Yang juga membuat semakin bernapsu untuk berbelanja, di Mekah itu banyak sekali barang yang menarik dengan harga murah. Ada aneka kopiah haji yang cukup bagus dan murah, jam tangan berbagai merek, tasbih lusinan, mainan anak, dan aneka jenis barang lainnya.
Selain itu, banyak tanda mata khas Arab, seperti kacang arab, kurma, minyak wangi, celak mata, rumput fatimah, dan lainnya yang “wajib” dibeli. Emas pun di sini lebih murah dibanding di Jakarta.
Dengan banyaknya jemaah asal Indonesia yang melaksanakan ibadah haji dan umrah (sebagai jemaah haji terbesar di dunia), membuat para pedagang selama musim haji, tampak "akrab" dengan jemaah Indonesia. Banyak pedagang di beberapa pasar yang bisa berbicara bahasa Indonesia beberapa patah kata.
Salah satu pasar yang terkenal adalah Pasar Seng. Sebuah pasar tak jauh dari Masjidilharam yang konon menjadi tempat favorit bagi jamaah Indonesia untuk berbelanja.
Letaknya memanjang mulai dari dekat rumah kelahiran Nabi saw atau area Marwah, ujung tempat sa’i. Di Pasar Seng banyak kios berjajar menjajakan beragam dagangan. Ada kios makanan, termasuk kurma dan kacang arab, pakaian, perlengkapan salat, buku, Al-Quran, bahkan minyak wangi dan mainan anak-anak yang lucu-lucu.


Para pedagang di sana sepertinya begitu kenal dengan wajah orang-orang Indonesia yang lewat di depan kios mereka, layaknya di pasar Tanah Abang Jakarta. Mereka suka memberi salam dan menanyakan kabar. ''Indonesia, apa kabar?''. ''Indonesia, bagus,'' dan berbagai sapaan atau tawaran lainnya dalam bahasa Indonesia.
Rasanya, tidak mahir bicara bahasa Arab pun jamaah Indonesia bisa berbelanja dengan nyaman, meskipun sedikit salah pengertian kadang masih tetap saja ada. Dan kadang-kadang memang perlu bahasa tarzan juga.
Selain itu, para jamaah bisa berbelanja ke pasar-pasar lainnya, yang berjejer di antara hotel (maktab) dan Masjidil Haram. Hampir seluruh area di sekeliling Masjidil Haram penuh oleh pedagang kaki lima dengan jenis barang yang menarik dan harga kaki lima alias murah.
Di sekitar Masjid Nabawi, Madinah, pun sama, tapi jumlahnya tak sebanyak di Mekah. Dan toko-toko di Madinah terkesan lebih berkelas dibanding Mekah. Barangnya pun umumnya lebih bagus. Sementara kedaan lingkungan sekitar lebih rapi dan bersih.
Sedangkan di Mina, pasar-pasar itu berupa pasar dadakan, yang digelar di sepanjang jalan, selain berupa kios-kios permanen. Di pasar jalanan inilah, akan kita dapati aneka ragam barang, mulai dari sayuran sampai barang elektronik.

Made in China
Dari mana asalnya tas, tasbih, sajadah, atau pernak-pernik lain? Kalau diperhatikan lebih seksama, boleh jadi suvenir itu bukan asli buatan Arab Saudi melainkan impor dari Cina, yang kadang-kadang terlihat dari labelnya. Produk buatan Cina merajai suvenir khas Tanah Suci. Bentuknya semacam miniatur Ka’bah, mesjid Madinah, dan ciri khas Arab lainnya, tapi pabriknya ternyata di Cina.
Jangan heran, peci haji, tasbih beragam bentuk dan ukuran, sajadah, jubah, baju abaya (hitam), jam tangan, mainan anak, perhiasan hingga asesoris untuk gadis kecil juga banyak yang berlabel Made in China. Barang-barang itu dijual di sekitar Masjidil Haram di Mekkah dan juga di sekitar Masjid Nabawi Madinah
Harga barang buatan negeri Tirai Bambu itu pun cukup murah, sebagaimana halnya produk serupa di Tanah Air.

Kurma Madinah.
Tapi soal kurma, Cina tak bisa menyaingi Madinah, hehe…
Tak salah jika kota Madinah terkenal sebagai wilayah produsen kurma nomor satu. Hampir di setiap sudut kota terdapat banyak penjual kurma, baik yang dijajakan pedagang kaki lima, toko, ataupun sentra-sentra penjual khusus.
Bila kita melintas di kawasan luar kota, akan tampak deretan perkebunan kurma yang sangat luas. Jadi, apa boleh buat, jika berkunjung ke kota Madinah, jangan lupa membeli kurma
Dalam soal harga pun jika dibandingkan dengan kota-kota lain, semisal Mekah maupun Jeddah, di sini relatif lebih murah, untuk barang yang berkualitas sama.
Pasar Kurma letaknya di pusat kota, tepatnya di kawasan Qurban, dekat Masjid Nabawi. Yang banyak dijual adalah kurma beserta produk olahannya. Jamaah bisa membeli secara eceran maupun secara borongan. Harganya berkisar dari 5 riyal per kg (paling murah) sampai 80 riyal per kg, yaitu kurma Nabi atau kurma Ajwa yang terkenal.


Selain kurma kiloan, ada juga yang sudah dipak, Mulai dari yang paling bagus dalam kaleng, kaca, plastik hingga karton dengan aneka merek. Coba pula kurma yang telah dibuang bijinya, lalu dilapisi cokelat, keju, susu, roti, dan lainnya yang dijual dalam bentuk pak yang menarik. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya
Kurma ajwa merupakan jenis yang banyak diminati jamaah meskipun harganya mahal. Konon, ini adalah kurma kegemaran Nabi Muhammad saw

Tips Berbelanja.
o Barang barang yang umum dibeli jamaah haji di antaranya adalah kurma, tasbih, jilbab, air zamzam, sajadah, perhiasan (emas, imitasi, dll), barang kerajinan logam (tea set), parfum, thobe (jubah pria), buku/kitab, jam tangan, siwak, pacar arab (pewarna kuku), celak mata, dll
o Jangan gunakan waktu terlalu banyak untuk berbelanja. Jemaah umumnya memiliki waktu sekitar tiga minggu di Mekah (selain ibadah ke Arafah). Cukup untuk sekedar berbelanja kebutuhan utama. Di Madinah pun, di sela-sela salat 5 waktu berjamaah, jemaah punya waktu untuk berkunjung ke pasar atau toko.
o Untuk barang suvenir atau oleh-oleh ke Tanah Air sebaiknya dicatat dulu. Lalu belanjalah secara bertahap, sebagian sebagian saat kita pulang dari aktivitas ibadah.
o Belilah barang-barang yang sangat dibutuhkan saja. Barang-barang yang dijual di sana banyak berasal dari negara Cina, Taiwan, Thailand, Jepang, juga sebagian dari Indonesia. Kalau harganya tak jauh beda, kenapa membeli di sana? Bahkan kurma dan beberapa produk khas Arab pun sekarang sudah dijual di banyak kota di Indonesia.
o Untuk barang-barang eks Cina, belilah yang harganya sangat murah atau barang berlambang tanah arab, misalnya jam beker bergambar Masjidil Haram, atau miniatur mesjid Madinah, dan lainnya. Barang-barang berkarakter umum sih mendingan beli di Indonesia nanti.


o Sebelum berangkat, pelajari hitungan dalam bahasa arab (1, 2, 20, 100 dst) dan kalimat-kalimat praktis seperti Kam hadza? (berapa harganya?), Bikam? (berapa?), Laa.. (tidak), dan lainnya (lihat Bab 16). Ini untuk mempercepat komunikasi saat berbelanja.
o Buatlah daftar barang yang dibutuhkan sejak di Tanah Air. Jangan baru mencari-cari barang yang akan dibeli setelah tiba di Tanah Suci. Ada pula jemaah yang sudah membuat daftar belanjaan, seperti pacar arab buat si anu, siwak buat pak anu, gelang emas buat ibu, dan sederetan nama lainnya.
o Lakukan pengamatan, jenis barang apa saja yang ada, di mana yang termurah, di mana lokasi pasar yang komplet dan lainnya. Lakukan saja sambil pulang sehabis beribadah di Masjidilharam atau Nabawi. Atau pasang telinga, biasanya teman jemaah sebelahnya juga suka memberi info bagus.
o Kadang di sana ditemukan barang baru dan lebih cocok untuk diberikan kepada si anu, misalnya. Ya, lakukanlah revisi daftar belanja, kalau perlu.
o Kapan berbelanjanya? Lakukanlah sepulang dari Masjidilharam atau sambil ziarah misalnya, secara bertahap. Sesuaikan dengan waktu yang luang. Bila Anda termasuk rombongan haji Gelombang kedua, berbelanjalah di akhir masa tinggal di sana. Bila jemaah makin sepi menjelang akhir musim haji, banyak pedagang yang "banting harga".


o Lakukanlah tawar menawar harga. Pedagang di Tanah Suci umumnya memasang harga yang masih bisa ditawar. Tawarlah mulai dari setengah harga. Kalau perlu sampai 30 persennya dulu bila terasa dia membuat harga penawaran terlalu tinggi.
o Bila Anda bersantap misalnya, lalu ditagih dengan harga yang tidak wajar (tiga atau empat kali lipat lebih mahal) mintalah kuitansinya (fakturah). Pedagang itu biasanya akan berpikir seribu kali, karena hal itu haram dilakukan pedagang (akan kena sangsi pemerintah). Dia akan menurunkan harganya atau Anda akan dibebaskan tak membayar, meskipun dengan cara diusir pedagang itu.
o Khusus untuk wanita, berbelanjalah secara berombongan. Ini untuk menghindari hal yang tak diinginkan karena pedagang (toko) di Arab umumnya adalah laki-laki. Jangan terlalu jauh masuk ke bagian dalam toko. Asal diketahui, wanita penduduk Saudi Arabia umumnya berpakaian abaya hitam tertutup penuh, kecuali bagian matanya. Jadi, wanita yang berpakaian lebih “terbuka” bisa mengundang banyak sorotan mata para lelaki di sana.
o Ingatlah ketentuan batas maksimum barang yang boleh dibawa ke dalam pesawat terbang. Jika kelebihan, terpaksa barang harus dikeluarkan. Seandainya kelebihannya cukup banyak maka sebaiknya mencari agen jasa pengiriman barang dahulu dengan biaya pengiriman paket yang cukup lumayan.

Cara Mencium Hajar Aswad



(Ha Halim Ibnu Hafidz)
Sumber: “Tips Praktis Umrah dan Haji”




Rasanya banyak orang akan merasa sangat bangga kalau bisa mencium Hajar Aswad yang amat sulit dilakukan karena sangat padatnya orang yang bertujuan sama. Jemaah akan berusaha dengan berbagai cara untuk sampai dihadapan dan mencium Hajar aswad itu. Ada yang berhasil, tapi banyak juga yang tak mampu melakukannya.
Bagaimana para jemaah melakukan ibadah sunat ini? Banyak variasinya, mulai dari yang berlangsung normal sampai ke yang bernuansa gaib.

o Mencium Hajar Aswad itu teramat sulit. Kadang ada jemaah yang terjepit di tengah dan minta tolong dikeluarkan dari muka Hajar Aswad meskipun tinggal beberapa jengkal lagi. Jangan memaksakan diri kalau membahayakan keselamatan jiwa karena mencium Hajar Aswad itu hanya ibadah sunat.
o Banyak orang yang mengantre dengan cara menempelkan badannya berderet ke dinding ka’bah supaya bisa mencium Hajar Aswad secara bergiliran. Dengan cara begini, lebih memungkinkan untuk dapat mencium Hajar Aswad meskipun ngantrenya bisa lebih sepuluh meter di tempat berdesakan. Tapi ini bukan jaminan pasti sebab Hajar Aswad tak berpagar. Tapi paling tidak, untuk mencapai ke dekat Hajar aswad sudah lebih mudah.
o Ada orang yang mengakalinya dengan cara berkunjung pada waktu tertentu. Misalnya di tengah malam sampai waktu subuh. Memang kadang ada saat-saat tertentu yang rada longgar, meskipun tak jarang keadaannya tetap berdesakan. Yang juga dianggap rada longgar adalah satu jam setelah subuh sampai kira-kira jam 9 pagi.
o Begitu mendekati sudut Hajar Aswad, kadang ada yang berusaha menerebos antrean dengan menghentak-hentakkan kaki untuk bisa melangkah maju sembari sikutnya disodok-sodokkan ke tubuh jemaah lain. Mungkin juga itu adalah ulah para joki untuk memuluskan jalan jemaah yang membayarnya. Hindarilah cara-cara yang tidak simpatik dan diharamkan.


o Memang, ada jemaah yang berusaha mencium Hajar Aswad dengan meminta bantuan joki dengan memberikan bayaran sejumlah tertentu., sesuai negosiasi (50, 100, 150 riyal dst). Mereka (biasanya beberapa orang) akan memandu Anda untuk mencium Hajar Aswad dengan cara “membersihkan” jalan di depan Anda, kalau perlu dengan cara sikut sana-sikut sini atau lebih kasar dari itu. Kalau kita merasa puas mencium Hajar Aswad dengan cara dibantu begitu, ya silakan. Tapi kalau kita tak mau menyakiti orang lain, ya lakukan saja secara ikhlas dan aman. Kalaupun Anda mau menggunakan fasilitas para joki ini, pastikan bahwa cara mereka lebih sopan, rapi, tidak kasar.
o Ada juga cara lain untuk mengakali mempermudah mencium Hajar Aswad. Kalau jemaah lain mengantri panjang mulai dari Rukun Yamani, maka ada sebagian orang yang justru menyusup dari sebelah pintu Ka’bah atau area Multazam. Dari Multazam, mepet ke Ka’bah dan terus berpegangan pada pinggiram marmer tempat seorang polisi bertengger saat menjaga Hajar Aswad. Pas ketika orang yang antre dari Rukun Yamani gantian ke depan Hajar Aswad, yang dari Multazam masuk ke Hajar Aswad. Dengan cara ini ada yang berhasil mencium Hajar Aswad. Wallahua’lam.


o Kenyataannya banyak juga yang berhasil mencium Hajar Aswad tanpa bantuan orang lain. Dengan keajaiban Tuhan, kadang kita seperti ada yang mendorong sendiri mendekati batu hitam itu tanpa kita kenal siapa orang yang berbaik hati itu. Atau entah kenapa, bisa saja tiba-tiba ada gelombang putaran ribuan manusia mendesak tubuh kita. Lalu seperti air mengalir badan kita terbawa oleh kisaran ribuan orang tawaf dengan amat lempang menuju pintu Ka’bah. Allahu Akbar! Allah maha besar, Allah akan menolong jamaah yang ikhlas dan sabar.


Add to Technorati Favorites