Showing posts with label Rasul Juga Manusia. Show all posts
Showing posts with label Rasul Juga Manusia. Show all posts

Friday, May 2, 2008

Menjilati jari saat Makan.


(Ha Halim Ibnu Hafidz)
Sumber: Buku "Rasul Juga Manusia"

Bagaimanakah cara Rasul makan? Diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa
Rasulullah berkata:”Bila hidangan makanan telah disiapkan maka hendaknya jangan
ada seorangpun yang berdiri meninggalkan tempatnya sebelum hidangan itu
diangkat, dan jangan mencuci tangan walaupun sudah kenyang sampai orang-orang
lain selesai.
Kerjakanlah sesuatu yang lainnya karena (kalau berhenti makan) temannya
akan menjadi malu lalu berhenti pula makan padahal dia masih ingin makan”.
Bila beliau duduk makan maka beliau mengambil makanan yang didekatnya.
Dan bila beliau makan roti dan daging lebih dahulu beliau cuci kedua tangannya.
Ketika minum, Beliau tidak bernapas dalam tempat minum, tapi beliau
bernapas di luar tempat minumnya. Beliau tidak makan bawang putih, kucai dan
yang serupa itu.
Beliau tidak pernah mencela makanan. Bila beliau suka, maka dimakannya
dan bila tidak suka ditinggalkannya, tetapi beliau tidak melarang orang lain supaya
jangan memakannya.
17
Beliau tidak suka makan daging dhob (semacam biawak) dan limpa tetapi
beliau tidak mengharamkannya. Beliau tidak suka daging dhob karena bukan
binatang dari negerinya dan bukan makanan kaumnya.
Rasulullah memakan apa yang ada. Makanan yang paling disukainya adalah
makanan dhafaf, yaitu makanan yang dimakan secara bersama-sama sehingga
disentuh oleh banyak tangan.
Apabila duduk untuk makan, beliau menghimpun kedua lututnya dan kedua
kakinya sebagaimana duduknya orang yang melaksanakan shalat, kecuali lutut
berada di atas lutut yang lainnya dan kaki di atas kaki yang lainnya.
Rasulullah tidak memakan makanan yang panas. Sabdanya, “Sesungguhnya
memakan makanan yang masih panas itu tidak memiliki keberkahan. Dan
sesungguhnya Allah tidak memberi (makan) api pada kita, maka dinginkanlah
makanan itu” (HR Baihaqi).
Rasulullah memakan makanan yang ada di dekatnya. Beliau makan dengan
menggunakan tiga jarinya. Kadangkala mengambil makanan dengan menggunakan
empat jari. Beliau tidak pernah makan dengan dua jari. Beliau bersabda,
“Sesungguhnya yang demikian itu adalah cara makan setan.” (HR Daraquthni).
Rasulullah menjilati dengan jarinya sisa makanan itu sehingga jarinya
memerah. Beliau tidak mengelap tangannya dengan sapu tangan sebelum menjilati
jari jemarinya satu persatu. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya seseorang tak mengetahui pada makanan yang manakah yang
mengandung keberkahan itu (HR Muslim).
Bila beliau bersin maka beliau kurangi suaranya dan ditutup dengan baju atau
tangannya, atau menutup wajahnya dan mulutnya.
Dari Hudzaifah bin Yaman, “kami dilarang oleh Nabi minum dan makan
dengan wadah dari mas dan perak serta memakai kain sutera dan duduk di atasnya.
Qadi ‘Iyadh menceritakan: bahwa para ulama sesudah Ibnu Zubair dan pengikutnya
telah sepakat mengharamkan memakai sutera bagi laki-laki. Hal tersebut adalah
untuk menjauhkan seseorang dari sifat pongah sombong, bermewah-mewah, mubazir
dan bermegah-megah.

Friday, November 9, 2007

Rasul Juga Manusia



Rasul Juga manusia


MENGENAL Pemuda MUHAMMAD SAW (2)
(Ha Halim Ibnu Hafidz)
Bacaan Remaja.

Profesinya Sebelum Diutus Rasul.
Muhammad saw diangkat sebagai Rasul pada usia 40 tahun.
Tapi sebelum itu, apa pekerjaan beliau? Apa pekerjaan Muhammd saw sewaktu remaja? apa profesi Kangjeng Nabi kita ini. Seorang guru? Ustadz? Atau pertapa yang tiap hari bersmedi dan tinggal di tempat-tempat yang sepi? Ya, sebagai kaum muda yang kritis pasti kamu akan nanya semacam itu.
Wajar aja, sebab Muhammad saw tidak ujug-ujug berubah jadi Rasul. Jadi apa dong yang dilakukannya sebelum masa kenabiannya? Memang sih sewaktu lahirnya sudah ada tanda akan kenabiannya, misalnya bayi Muhammad lahir dibarengi dengan keluarnya cahaya yang menenrangi antara timur dan barat. Lalu di masa balitanya perkembangannya amat cepat. Tapi setelah berkembang menjadi bocah kecil, remaja, pemuda, Muhammad saw berkembang seperti halnya manusia lainnya.
Asal kamu tahu aja, Nabi-nabi lainpun punya profesinya masing-masing sebelum diangkat jadi rasul. Nabi Adam misalnya, beliau adalah seorang petani. Nuh seorang tukang kayu. Daud ahli membuat baju besi. Idris lihai dalam menjahit. Ada juga yang tukang kayu (Zakaria), Sementara Musa as adalah seorang penggembala. Penggembala puluhan sampai ratusan ekor, ya, bukan hanya tiga-empat ekor kambing. Dan kesamaan dari para rasul itu adalah, mereka semua pekerja keras.

Lalu, apa profesi Nabi kita?
Semasa mudanya, Nabi Muhammad saw adalah seorang Wirausahawan yang berhasil, pebisnis profesional. Para sahabat Rasulullah pun banyak yang berprofesi sebagai pedagang. Abu Bakar, Khalifah pertama dari Khulafa al-Rasyidin, memiliki usaha bisnis pakaian. Umar, Khalifah kedua penakluk Kekaisaran Persia dan Byzantium, pernah berbisnis jagung. Sementara Usman memiliki bisnis pakaian. Imam Abu Hanifah pun pernah melakukan usaha dagang bahan pakaian.
Asal tahu aja, waktu itu berdagang merupakan pekerjaan utama penduduk kota Makkah, karena kondisi sebagian besar tanah di wilayah Hijaz, khususnya di sekitar Makkah memang wilayah padang pasir yang kering. Daerahnya penuh dengan bebatuan, pegunungan tandus, dan langka air. Sulit sekali melakukan usaha pertanian di sana.
Saat inipun, kondisi seperti ini masih bisa dilihat. Kamu pernah pergi umrah? Di Mekah pasti pernah melihat bagaimana Masjidil Haram ini “dikepung” gunung-gunung batu. Hingga untuk membuat jalan raya pun pemerintah Saudi harus membuat banyak terowongan panjang, menembus gunung-gunung batu yang mengelilingi Makkah.
Karena dilahirkan dalam keluarga miskin, sewaktu kecil Nabi saw bekerja sebagai penggembala biri-biri milik orang Quraisy. Ini dilakukan guna meringankan sedikit beban yang ditanggung Abu Thalib, pamannya yang memeliharanya.
Karir bisnis Muhammad saw dimulai ketika nabi berusia 12 tahun. Dalam usia semuda itu, Nabi saw pernah diajak Abu Thalib melakukan perjalanan bisnis pertama ke Syria.

Muhammad saw, jagoan dagang…
Setelah perjalanan bisnisnya ke Syria, Muhammad saw suka melakukan bisnis kecil-kecilan di Makkah. Ia membeli barang-barang dari satu pasar lalu menjualnya kepada orang yang membutuhkan.
Meskipun masih usaha kecil-kecilan, Muhammad remaja melakukannya dengan segala kejujuran, dan tak pernah membuat para pelanggannya mengeluh atau “komplen”
Muhammad tidak pernah pernah berbohong, tidak menipu, tidak mengada-ada fakta, tidak hianat, tidak ingkar janji, dsb. Itulah sebabnya beliau terkenal dengan gelar spektakuler Al-Amin, orang yang amat terpercaya. Gelar yang amat besar nilainya buat pebisnis, dimanapun, kapanpun, zaman apapun.
Kamu tahu, adakah pebisnis saat ini yang punya gelar spektakuler seperti Nabi ini? Rasanya belum pernah denger ya…
Ia selalu menepati janji dalam hal mutu barang, harga barang maupun pengiriman barang. Tak pernah ada pertengkaran antara Muhammad dan para pelanggannya, seperti banyak di dilakukan pedagang lainnya waktu itu.
Bila ada permasalahan dengan pembeli selalu diselesaikan dengan damai dan adil. Para pembeli sama sekali merasa tak khawatir kalau Muhammad melakukan usaha penipuan.
Dalam istilah manajemen sekarang, Muhammad saw itu memiliki sifat-sifat yang unggul dalam hal kredibilitas, kepuasan konsumen, efisiensi kerja, persaingan sehat dan profesionalisme. Wah!

Digandrungi Janda Kaya …
Waktu itu kaum Quraisy punya suatu kebiasaan dagang yang cukup mendukung Nabi. Banyak janda kaya dan anak yatim yang kelebihan uang, tapi tak bisa memutarkan uangnya. Mereka perlu menyalurkan dananya kepada pedagang-pedagang yang memerlukannya untuk menjalankan bisnis berdasarkan sistem bagi hasil. Maka terbukalah peluang buat Muhammad saw untuk melakukan kerjasama bisnis dengan mereka.
Salah satunya Khadijah, salah seorang dari banyak wanita kaya di Makkah yang menjalankan bisnisnya melalui agen-agen berdasarkan berbagai jenis kontrak kerjasama (profit sharing). Ia sangat tertarik kepada Muhammad untuk melakukan kerjasama.
Muhammad amat menarik perhatiannya karena sejak kecil sudah terkenal baik budi pekertinya, rajin, jujur, sangat bisa dipercaya. Muhammad saw sudah dikenal penduduk Makkah sebagai Al Amin, orang yang amat terpercaya. Pokoknya banyak yang ngefans deh sama Muhamad remaja.

Khadijah lalu ber mitra dengan Muhammad. Khadijah mengutusnya dalam beberapa perjalanan dagang ke berbagai pasar di daerah Utara maupun Selatan Jazirah Arabia. Muhammad kadang-kadang diberi upah. Ya, Muhammad bekerja sebagai karyawan Khadijah dan diberi upah atas hasil kerjanya.
Tapi selanjutnya mereka berbisnis berdasarkan system bagi hasil. Muhammad saw bertindak sebagai mitra dagang Khadijah. Muhammad berwiraswasta dengan modal dagang yang berasal dari Khadijah.
Khadijah amat senang bermitra dengannya karena kerjasma usaha dagang dengan Muhammad selalu menghasilkan keuntungan yang besar. Seringkali keuntungan bisnis Muhammad dua kali lebih besar dibandingkan hasil pedagang-pedagang lainnya.
Ketika statusnya sebagai pegawaipun, Muhammad saw biasanya diupah dua kali lebih besar dibanding karyawan lainnya karena kepintarannya dalam berdagang. Jadi bukan hanya karena Khadijah ngefans banget sama pemuda Muhammad….

Wirausahawan Teladan.
Dari berbagai riwayat yang ditemukan, Muhammad saw memulai aktif berdagang dalam usianya yang masih muda. Sebagian mengatakan pada usia 17 tahun. Dua puluh tahun lamanya beliau berkiprah di bidang usaha sehingga beliau dikenal di negeri-negeri Yaman, Syria, Busra, Iraq, Yordania dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arabia. Ya, Muhammad saat itu sering melakukan perjalanan ke luar negeri, masih pakai onta, tentunya coy…..
Dengan sifat-sifat jujur, setia dan professional, maka Muhammad saw sangat dipercayai oleh orang-orang kaya di Mekah. Dengan sifat-sifat demikianlah maka berbagai pinjaman komersial tersedia di kota Mekah, membuka peluang kemitraan antara Muhammd dengan para pemilik modal.

Mereka pada menawarkan modal dan barang kepada Muhammad untuk dioperasikan dalam bisnisnya ke luar negeri. Para investor itu tak ubahnya seperti Lembaga Bank, dalam kondisi saat ini.
Dengan “kredibilitas” tinggi seperti ini membuat Muhammad tak kesulitan mendapatkan modal usaha, terutama dari saudagar Khadijah yang telah lama mengenalnya, dan mengundang banyak pelanggan yang mempercayainya.
Dasar-dasar kewirausahaan yang demikian itulah yang menyebabkan pengaruh Islam berkembang pesat sampai ke peloksok dunia. Banyak para pedagang Arab tempo dulu mengembara ke seluruh dunia, termasuk Indonesia sambil mengenalkan islam.

Rasulullah saw adalah “uswatun hasanah”, manusia suri tauladan. Termasuk dalam berbisnispun beliau telah banyak meninggalkan contoh yang harus ditiru ummatnya

Maskawinnya 20 ekor Unta Muda.
Khadijah telah lama mengenal Muhammad karena keluhuran budinya, sehingga ujung-ujungnya Khadijah r.a pun “melamar” Muhammad untuk dinikahinya.
Khadijah, wanita karir yang kaya raya dan telah menjanda dua kali, waktu itu telah berumur 40 tahun , sementara Nabi saw berusia 25 tahun. Dalam pernikahannya, maskawin yang diberikan kepada Khadijah adalah 20 ekor unta muda. Bisa kita bayangkan, maskawin itu besarnya ratusan juta rupiah jika dinilai pada saat ini. Dan itu rasanya mungkin tak terlepas dari Muhammad sebagai pebisnis yang berhasil.
Setelah menikah dengan Siti Khadijah, Nabi tetap melangsungkan usaha perdagangannya seperti biasa. Namun sekarang Nabi bertindak sebagai manajer sekaligus mitra dalam usaha istrinya.

Di penghujung usia 30-an, Nabi lebih cenderung melakukan meditasi dan ibadah, yang terkadang menghabiskan waktunya berhari-hari, bahkan berminggu-minggu di gua Hira, sampai akhirnya mendapatkan wahyu kenabiannya. Tapi sebelum kenabiannya itu, hingga pertengahan usia 30-an, Nabi masih aktif dalam usaha perdagangan

Monday, November 5, 2007

Rasul Juga manusia


Setumpuk Uang di Mesjid
(Ha Halim Ibnu Hafidz)
Bacaan Remaja

Suatu ketika Nabi menerima uang 90.000 dirham. Uang itu langsung ditumpuknya di atas tikar lalu beliau bagi-bagikan kepada orang banyak. Beliau tidak menolak permintaan siapapun yang meminta sampai uang itu habis.
Lain kali, beliau menerima uang dari Bahrain. Jumlah uang itu merupakan yang terbanyak yang pernah diterimanya. Beliau lalu minta meletakkan uang itu ditumpuk di Mesjid.
Kemudian beliau shalat di mesjid itu tanpa menoleh kepada uang tadi. Ketika beliau selesai sembahyang beliau duduk di dekat uang itu dan membagikannya kepada setiap orang yang memintanya. Beliau baru berdiri setelah uang itu habis.
Suatu hari datang seseorang kepada beliau untuk meminta sesuatu. Oleh beliau diberinya orang itu kambing yang banyak, saking banyaknya sampai memenuhi jalan antara dua bukit. Lalu orang itu kembali kepada kaumnya dan berkata:”Masuk Islamlah kamu sekalian, sesungguhnya Muhammad itu bila memberi maka dia seperti orang yang tak takut miskin”.

Di saat lainnya, ketika beliau baru kembali dari perang Hunain, datang orang-orang Arab Badui kepada beliau dan meminta sesuatu. Orang-orang itu memaksa membawa beliau ke sebuah pohon dan merampas bajunya.
Beliau berdiri dan berkata:”kembalikanlah bajuku itu. Jika aku mempunyai hewan sembelihan sebanyak pohon duri ini pasti akan aku bagi-bagikan kepada kamu sekalian, dan kamu sekalian tak akan menemukan aku sebagai seorang bakhil, seorang pembohong atau seorang penakut.”
Kemurahan nabi sampai mengalahkan kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya. Beliau memberikan sesuatu barang padahal beliau sendiri sangat membutuhkan barang itu. Beliau memberikan pemberian yang banyak sedang beliau sendiri membutuhkan sedikit saja dari yang diterimanya itu, karena beliau bisa menahan diri dan bersabar.

Malu… kalau tak bisa memberi
Puncak dari sifat kedermawanan beliau ialah beliau merasa malu jika tidak bisa memberi kepada seseorang yang meminta kepadanya. Beliau merasa malu kalau orang yang meminta itu pulang dengan tangan kosong, meskipun Rasul sendiripun memang sedang tak punya apa-apa.
Ada seseorang datang kepada beliau dan meminta sesuatu. Beliau berkata:”aku sedang tak punya apa-apa. Tetapi kamu belilah kebutuhanmu atas tanggunganku, nanti bila aku telah mempunyai uang akan aku bayar”.

Umar bin Khathab yang berada di dekatnya berkata:”Wahai Rasulullah, orang itu telah engkau beri sebelum ini, sesungguhnya Allah tidak membebanimu dengan sesuatu yang engkau tidak mampu memikulnya”.
Rupanya Nabi tidak senanng terhadap kata-kata Umar itu, lalu seorang dari kaum Anshar berkata:”Wahai Rasulullah berilah, dan jangan khawatir bahwa Allah akan memberimu hanya sedikit”. Nabi lalu tersenyum dan wajahnya kelihatan berseri-seri, menyetujui perkataan sahabatnya itu, kemudian beliau berkata:”Inilah yang diperintahkan kepadaku”.

Kalau diminta, apapun diberikannya…
Jabir berkata:”Ketika Rasulullah saw duduk, datanglah kepada beliau seorang anak kecil. Anak itu berkata: ”ibuku mohon kepada engkau agar ia diberi gamis (kemeja). Rasulullah menjawab, ”tunggulah sampai barang itu ada, dan kamu boleh datang kembali”.
Anak kecil itu pulang ke rumahnya dan menceritakan apa yang dikatakan Rasul kepada ibunya. Kemudian ibunya berkata:”kembalilah kamu kepada Rasul lagi, katakan kepadanya bahwa Ibu meminta gamis yang dipakainya”.
Anak tersebut datang lagi kepada Rasul dan menceritakan apa yang dikatakan ibunya. Mendengar itu Rasul masuk ke kamarnya dan menanggalkan gamis yang dipakainya kemudian beliau berikan kepada anak kecil itu. Beliau lalu duduk tanpa baju.

Kebetulan Bilal pada waktu itu sedang adzan, dan kaum muslimin menanti-nantikan beliau, namun Rasulullah tidak keluar dari rumahnya untuk shalat seperti biasanya.
Demikianlah super pemurahnya Nabi saw.
Di hari lainnya, seorang wanita datang kepada Rasulullah saw membawa baju. Wanita itu berkata:”Wahai Rasulullah, aku ingin menghadiahkan baju ini untukmu”, maka Rasulullah menerima baju itu, dan memang beliau sedang memerlukannya, kemudian beliau pakai.
Setelah itu ada salah seorang dari sahabat beliau yang mengetahuinya, lalu dia berkata:”Wahai Rasulullah alangkah bagusnya baju ini, berikanlah kepadaku. Rasul menjawab:”ya”.
Setelah Rasul pergi dari tempat itu, maka para sahabat yang lain menegur orang yang usil meminta baju itu. Mereka berkata: ”Sesungguhnya kamu mengetahui bahwa Rasul membutuhkan baju itu, dan kamu tahu juga bahwa bila ada seseorang yang meminta sesuatu, beliau tak akan menolak (lalu, kenapa kau lakukan itu?)”.

Berkata Ar-Rabi’ binti Mu’awwidz:”aku datang kepada Rasul membawa kurma dan timun, kemudian oleh Rasul aku diberi perhiasan dari emas. Kejadian ini seperti apa yang dikatakan oleh Ibunda Aisyah bahwa Rasul suka menerima hadiah dan memberi balasan atas hadiah itu. Dan kalau kebetulan lagi ada, maka balasan atas hadiah itupun bisa tak ternilai harganya.
Ali bin Abi Thalib berkata bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling pemurah. Banyak bukti kepemurahan beliau sejak sebelum diangkat menjadi Rasul. Sementara Ibunda Khadijah berkata bahwa Rasul suka menguatkan silaturrahmi, suka menolong orang yang lemah dan mengusahakan sesuatu untuk orang yang miskin. Rasul juga senang menyuguhi tamu, dan suka menolong orang yang sedang menderita musibah.

HIKMAH.
Luar biasa! Rasanya tak ada manusia yang bisa mengalahkan Rasul dalam hal kedermawannya. Rasul itu kaya, banyak hartanya. Sebagai Kepala Negara, beliau mendapatkan hartanya yang berasal dari berbagai sumber, seperti dari hasil pajak negara, jatah pembagian pampasan perang, hadiah-hadiah, dan sumber lainnya.
Rasulullah saw sering menerima hadiah atau pemberian uang dan barang, dari sumber-sumber itu. Contohnya adalah penerimaan uang yng ditumpuk di masjid pada awal cerita Bab ini.

Tapi satu yang jadi ciri khas Rasul. Beliau tak pernah menyisakan apapun yang diberikan kepadanya, berapapun banyaknya, melainkan segera dibagikan lagi sampai habis kepada orang miskin dan masyarakat yang membutuhkannya.
Uang itu tak pernah bermalam di sisinya satu dinar atau satu dirhampun. Bahkan kalau barang atau uang itu masih nyisa, hanya beberapa rupiah atau dirham pun, maka benda itu bakal menjadi siksaan buat Nabi. Beliau tak kan bisa tidur semalaman karena gelisah mengingat sisa uang yang belum dibagikannya itu, yang dianggapnya beliau masih punya utang.
Betul-betul luar biasa.

Tentu saja, rasanya amat susah ya bagi kamu untuk mengikuti gaya Rasul ini. Lagian, derajat keimananmu juga pasti sangat jauh dibanding dengan Rasul.
Tapi bukan itu targetnya. Rasul sangat kasih sayang terhadap ummatnya. Rasul tak pernah membebankan pekerjaan yang sulit kepada ummatnya. Minimal, kamu diminta supaya membayar zakat dengan benar.
Nggak sulit kok. Tidak harus mendermakan seluruh kekayaannya seperti Rasul. Tapi Cuma 2,5% saja buat zakat profesi (zakat penghasilan atau gaji bulananmu), atau 10 persen untuk zakat pertanian, atau jenis zakat lainnya. Plus memberikan sedekah, infak, seikhlasnya. Kecil aja kan jumlahnya?
Lalu, kenapa sih harus berinfak atau sedekah segala?

Sebaiknya cam kan poin-poin di bawah ini:
· Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, dan pada tiap-tipa butir ada seratus biji (Al-Baqarah: 261). Artinya Allah akan menggantinya 700 kali lipat.
· Kamu sekali-kali tidak sampai kepada pengabdian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai … (Ali Imran:92). Kalau ngasih sesuatu, jangan sekedar barang rongsokan yang sudah mau kamu buang.
· Jauhilah kekikiran. Sesungguhnya kekikiran itulah yang menghancurkan orang-orang sebelum kamu, yang mendorong mereka bunuh membunuh, dan menghalalkan apa yang terlarang.

Kapan saatnya bersedekah?
· Bersedekahlah engkau dikala engkau sedang sehat,
· dikala sedang bakhil,
· dikala sedang mengangan-angankan kekayaan
· dan dikala sedang takut miskin.
· Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga kamu baru bersedekah ketika roh mu telah sampai di tenggorokanmu.
Mari, bersedekahlah sebelum terlambat.
Add to Technorati Favorites